BP Haji wajib membenahi tata kelola haji usai skandal kuota 2024, mulai dari audit antrean “kuota batu” hingga melibatkan eks penyidik KPK–demi transparansi dan akuntabilitas penuh.
__________
Di balik panasnya isu dugaan korupsi kuota haji yang tengah diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) Mochammad Irfan Yusuf atau akrab disapa Gus Irfan, menyampaikan mandat penting dari Presiden Prabowo Subianto: tata kelola haji harus akuntabel dan transparan.
“Presiden hanya menyampaikan dua kata: akuntabel dan transparan. Tapi kami sadar, dua kata itu berat dijalankan kalau tak diturunkan jadi kebijakan konkret,” ujar Gus Irfan di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Juni 2025.
Mandat itu, menurut Irfan, bukan sekadar retorika. Situasi yang tengah dihadapi Kementerian Agama, tempat skandal kuota haji 2024 bermula, telah memaksa pemerintah mengambil langkah pembersihan serius. “Kami tidak bisa berpangku tangan. Harus ada tindakan nyata,” ucapnya.
Mantan Penyidik di Jantung BP Haji
Sebagai langkah konkret, BP Haji mulai membenahi jeroannya. Delapan mantan penyidik dari KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian kini duduk di kursi-kursi strategis BP Haji, tepatnya di jajaran eselon II.
“Kita libatkan mereka untuk memperkuat sistem. Supaya tak hanya bersih, tapi juga terlihat bersih,” ujar Gus Irfan. Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa BP Haji bertekad memutus rantai penyimpangan yang kerap menyelinap dalam proses haji, terutama dalam pengelolaan kuota.
Langkah ini muncul tak lama setelah Plt Deputi Penindakan KPK Asep Guntur Rahayu mengonfirmasi adanya penyelidikan terkait dugaan korupsi kuota haji 2024 di Kemenag. Penyelidikan berlangsung tertutup, namun cukup membuat pucuk pimpinan haji nasional bergerak cepat.
Membongkar Kuota Batu
Selain pembenahan internal, Gus Irfan menyampaikan rencana audit total data antrean jemaah haji. Fokus audit tertuju pada fenomena yang dikenal dengan istilah kuota batu—jemaah yang terdaftar secara administratif, lengkap dengan nama, alamat, dan bukti pembayaran, tetapi tak pernah muncul ketika dipanggil berangkat.





