Menulis ulang sejarah bukan aib—ini praktik umum di banyak negara. Indonesia bukan satu-satunya. Yang penting, ditulis dengan jujur, ilmiah, dan berpihak pada kebenaran.
__________
Indonesia sedang menulis ulang sejarah nasional. Ini bukan hal remeh.
Pemerintah, melalui Kementerian Kebudayaan yang dikomandoi Menteri Fadli Zon, menggandeng 113 ahli sejarah dari seluruh penjuru negeri untuk menyusun 10 jilid sejarah Indonesia dari zaman prasejarah hingga era Presiden Jokowi.
Targetnya: memperbarui kurikulum pendidikan dan memperkuat pemahaman generasi muda tentang jati diri bangsanya.
Terlepas dari kontroversinya-termasuk soal pemahaman “pemerkosaan massal” yang terjadi di tengah gaduh transisi politik nasional tahun 1998—faktanya, menulis ulang sejarah adalah hal normal di sebuah negara. Bahkan lazim dilakukan banyak negara besar.
Yang luar biasa justru kalau kita membiarkan narasi lama yang penuh bias dan bolong terus diajarkan tanpa revisi.
Daftar Negara yang Sudah Melakukan Hal Serupa:
Korea Selatan – Pemerintah mencoba menerbitkan buku sejarah versi tunggal yang menyanjung nasionalisme dan menghapus kritik terhadap tokoh tertentu. Gagal karena ditolak publik. Tapi niat revisinya tetap jalan.
Irak – Setelah Saddam Hussein tumbang, ratusan buku sejarah yang memuja dirinya langsung ditarik. Irak sadar: selama ini sejarah mereka adalah propaganda.
India & Pakistan – Dua negara, dua versi cerita. Pemisahan negara dan konflik militer mereka ditulis secara bertolak belakang. Keduanya menulis sejarah sesuai kepentingan nasional masing-masing.
Jepang – Sejumlah buku pelajaran di sana menghapus bagian kelam seperti pembantaian Nanking. Kritik datang dari dalam dan luar negeri, tapi revisi tetap dilakukan.
Tiongkok – Di bawah Xi Jinping, isi buku sejarah dirombak. Revolusi Kebudayaan dan Tragedi Tiananmen? Hilang. Yang tersisa hanya kisah pembangunan ekonomi dan kejayaan Partai Komunis.
Afghanistan – Selama bertahun-tahun, buku sejarah di sana tidak menyebut Taliban, Uni Soviet, atau Amerika. Tujuannya satu: stabilitas politik, bukan kejujuran.





