Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid punya target, Indonesia harus punya 9 juta orang tenaga terampil digital pada tahun 2030. Target ini perlu terpenuhi karena, kata dia, agar Indonesia memiliki daya saing di kancah global.
Menurut Meutya, saat ini Indonesia baru memiliki 500 ribu orang yang terlatih di sektor digital. Karena faktor ini pula, katanya, Indonesia ada di peringkat ke-43 dari total 67 negara. Data yang disebut Meutya itu mengacu hasil riset the International Institute for Management Development World Digital Competitiveness Rangking (IMD WDCR) 2024.
“Saat ini, daya saing digital kita meningkat, dari peringkat 45 di 2023 menjadi 43 di 2024. Peningkatan ini diharapkan terus terjadi di masa mendatang, untuk mendukung kesiapan ekonomi digital di Indonesia,” kata Meutya di Jakarta, dikutip Sabtu, 14 Desember 2024.
Meutya mengakui jika targetnya itu ambisius. Tetapi, menurutnya, target tersebut harus ditetapkan mengingat potensi ekonomi digital Indonesia amat besar dan mesti dikelola secara baik.
Meutya juga menegaskan jika pemerintah tidak ingin Indonesia hanya sekadar jadi pasar ekonomi digital. Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu pusat inovasi digital dan pionir ekonomi digital di kawasan regional.
Untuk mencapai target tersebut, Meutya mengaku, pihaknya telah bekerja sama dengan penyedia teknologi dalam negeri dan internasional untuk mentransfer pengetahuan teknologi guna meningkatkan kapasitas lokal.
Ada juga program Digital Talent Scholarship (DTS) yang diinisiasi Kemenkomdigi, yang kata Meutya telah menjangkau 5,6 juta warga. “Persiapan talenta digital ini menjadi penting, sehingga nantinya, ketika terjadi akselerasi digital, serapan tenaga kerja di Indonesia dirasa akan lebih siap,” ucap dia.***





