Mengulik Sejarah Lebaran Ketupat yang Dirayakan Muslim Jawa Seminggu setelah Idul Fitri

Ilustrasi ketupat. Masyarakat Jawa mengenal budaya Kupatan atau Lebaran Ketupat yang biasanya diadakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. FOTO: DOK. SAMUDRA FAKTA

Pada masa lalu, terdapat tradisi unik yang berbau mistis, namun kini sudah jarang ditemukan.

Ketupat juga dianggap sebagai penolak bala, dengan cara menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya bersama pisang, dalam jangka waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan sampai kering.

Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunyai makna “pangapunten” alias memohon maaf.

Bacaan Lainnya

Saking dekatnya kupat dengan santen, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri: Mangan kupat nganggo santen. Menawi lepat, nyuwun pangapunten (makan ketupat pakai santan. Bila ada kesalahan mohon dimaafkan).◼︎

Pos terkait