Perawakannya yang relatif kecil, gaya servisnya yang begitu tersohor, footwork-nya yang tanpa tanding, pergelangan tangan yang kuat, dan mental yang tangguh, membuat Susi dianggap banyak orang sebagai salah satu pemain tunggal putri terhebat sepanjang masa.
Susi Susanti menikah dengan Alan Budikusuma pada 9 Februari 1997 setelah berpacaran selama 9 tahun. Pasangan ini dijuluki Pasangan Emas Olimpiade karena keduanya meraih emas Olimpiade untuk Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992.

Susi sebenarnya masih bisa melanjutkan karier, apalagi dia sangat ingin mendapatkan emas pada ajang Asian Games, karena itu adalah satu-satunya pertandingan yang belum pernah dia menangkan. Namun, setelah dinyatakan hamil pada 1998, ia memutuskan untuk gantung raket dan tidak mengikuti Asian Games.
Acara pelepasan Susi berlangsung di Istora Senayan pada 30 Oktober 1999, yang merupakan pelepasan pertama kali yang pernah dilakukan PBSI. Dihadiri 2.500 penonton, pada kesempatan itu PBSI memberikan hadiah penghargaan berupa emas seberat 25 gram.
International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) pada bulan Mei 2004 memberikan penghargaan Badminton Hall of Fame kepada Susi Susanti. Sebelumnya, ia juga menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama pada 1992.
Kisah hidup Susi kemudian dibuat menjadi film biopik berjudul Susi Susanti: Love All yang dirilis pada 24 Oktober 2019. Kini, pasangan Alan dan Susi memiliki 3 orang anak, Laurencia Averina (1999), Albertus Edward (2000), dan Sebastianus Frederick (2003). Susi sendiri lebih mendorong anak-anaknya untuk mengejar karier selain di bulutangkis.
(Yadi)





