Di sudut terakhir bekas lokalisasi Njarak-Dolly yang kini sunyi, sebuah masjid berdiri di tempat yang dulu dikenal dengan nama yang tak pernah ingin diingat siapa pun.
Surabaya menyimpan banyak luka yang perlahan diubah menjadi cahaya.
Di bekas kawasan lokalisasi Njarak-Dolly — yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara — kini berdiri Masjid Kampoeng Njarak.
Bangunan itu bukan sekadar tempat salat.
Ia adalah bekas rumah prostitusi terakhir di kawasan itu; kini menjelma menjadi pusat santunan, pemberdayaan ekonomi, dan pengajian rutin bagi ibu-ibu setempat.
Nalar Kimia, Logika Sosial
Di balik transformasi itu ada Eko Prasetyo, alumni Kimia Universitas Airlangga angkatan 2002.
Bagi Eko, perubahan fisik bangunan hanyalah permukaan. Yang lebih dalam adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap diri mereka sendiri.
“Masjid ini kami harapkan menjadi tempat yang menghidupkan nilai kebersamaan dan kepedulian,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Ia mengakui bahwa kuliah kimia bukan hanya tentang unsur dan reaksi. Setiap mata kuliah, katanya, melatih pikiran untuk bekerja secara sistematis dan runut — pola pikir yang kini ia terapkan dalam merancang program sosial, mulai dari menggalang donatur hingga menyusun kegiatan kemasyarakatan yang berkelanjutan.
Dari Ketua Hima ke Penggerak Kampung
Pengalaman Eko sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia Unair juga membentuk sesuatu yang tidak diajarkan di buku teks: kemampuan membangun kepercayaan.
Kepercayaan dari warga, dari donatur, dan dari mereka yang dulu memandang kawasan Dolly sebagai tempat yang tak bisa diselamatkan.
Kini ia membuktikan sebaliknya — satu bangunan, satu komunitas, satu program pada satu waktu.
Kepada mahasiswa, Eko menitipkan pesan sederhana namun berat: optimalkan potensi yang ada untuk memberikan dampak seluas mungkin. Jika diberi kesempatan kembali ke masa kuliah, ia mengaku akan lebih banyak menjalin silaturahmi — karena jejaring, katanya, adalah modal yang tidak tercantum dalam kurikulum mana pun.
Simbol di Tanah yang Pernah Gelap
Dolly resmi ditutup pada 2014. Namun penutupan itu hanya mengakhiri satu babak — babak berikutnya, tentang apa yang tumbuh dari reruntuhannya, masih terus ditulis.





