Mantan Menteri Luar Negeri Qatar Hamad bin Jassem mendorong negara-negara Teluk meneladani Iran dalam mengembangkan industri rudal canggih meski di tengah sanksi.
Hamad bin Jassem, mantan Menteri Luar Negeri Qatar, menyatakan bahwa negara-negara kawasan harus mencontoh keberhasilan Iran dalam melokalisasi industri rudal canggih — sekalipun dalam kondisi terkena sanksi internasional.
Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Pars Today pada Sabtu (14/3/2026).
“Perang di kawasan kita ini juga sama seperti perang-perang lain akan berakhir, tetapi pelajaran yang ada harus dipelajari oleh negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan Iran mempertahankan dan mengembangkan teknologi militernya di tengah tekanan sanksi menjadi contoh berharga bagi negara-negara tetangga.
Iran Tegaskan Hak Membela Diri
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam wawancara dengan Xinhua, menegaskan bahwa agresi militer Amerika dan Israel tidak dapat dibenarkan dengan argumentasi atau aturan internasional apa pun.
“Ini pelanggaran perdamaian dan bangsa Iran serius untuk membela diri selama diperlukan,” tegas Baghaei.
Ia menjelaskan bahwa rakyat Iran telah belajar sepanjang sejarah untuk tetap kuat dalam menghadapi ketidakadilan. “Peradaban kaya seperti Iran tidak akan pernah menyerah,” tambahnya.

Keamanan Kawasan Bergantung pada Kerja Sama Regional
Baghaei menegaskan bahwa keinginan Iran adalah memperkuat hubungan dengan setiap negara di kawasan Teluk Persia dan negara-negara tetangga. “Keamanan dan stabilitas keamanan bergantung pada kerja sama antara negara-negara kawasan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan alasan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan menjadi target serangan. “Karena mereka tersebar di sekitar Iran dan Amerika menggunakannya untuk melakukan agresi militer terhadap Iran,” jelas Baghaei.
Ia menekankan bahwa negara-negara kawasan sepenuhnya mengetahui realitas ini: kehadiran militer Amerika di kawasan tidak membawa perdamaian dan stabilitas.
Hizbullah Siap Perang Berkepanjangan
Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem, dalam pidato memperingati Hari Quds Sedunia, Jumat (13/3/2026) malam, menyebut pendudukan Palestina sebagai penindasan historis terbesar terhadap bangsa Palestina.
“Agresi yang dilakukan musuh Zionis-Amerika terhadap kawasan dan dunia pada dasarnya hasil dari tumor buruk. Tumor yang lebih dari 70 tahun tidak mengizinkan kawasan mencapai ketenangan dan kestabilan,” imbuhnya.

Naim Qassem menjelaskan bahwa para pejuang Hizbullah melakukan operasi mati syahid karena mereka tidak takut mati dan siap melakukan perang satu lawan satu dengan musuh.
“Kami telah menyiapkan diri untuk perang berkepanjangan dan mereka akan terkejut di medan perang,” tegas Sekjen Hizbullah.***





