Hamas Minta Iran Hentikan Serangan ke Negara Teluk, tapi Tegaskan Hak Membela Diri

Gumpalan asap membubung di atas gedung-gedung di Doha, Qatar pada 5 Maret 2026. — AFP via Al Jazeera
Kelompok Palestina Hamas menyerukan kepada sekutunya, Iran, untuk menghentikan serangan ke negara-negara Teluk. Tapi mereka tetap menegaskan Teheran punya hak membela diri dari agresi AS-Israel.

Hamas, pada Sabtu (14/3/2026) mengeluarkan pernyataan yang menyerukan agar “saudara-saudara di Iran” tidak menargetkan negara-negara tetangga. Kelompok ini juga mendesak kawasan untuk mengakhiri konflik yang telah melibatkan sebagian besar Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan dukungannya terhadap hak Iran untuk merespons agresi. 

“Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk merespons agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional, gerakan ini menyerukan kepada saudara-saudara di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga,” demikian bunyi pernyataan Hamas, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Bacaan Lainnya

Hamas menambahkan bahwa negara-negara di kawasan harus “bekerja sama untuk menghentikan agresi ini dan memelihara ikatan persaudaraan di antara mereka.”

Konteks Serangan dan Dukungan Teluk

Sejak perang Iran dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari, sejumlah negara Teluk telah melaporkan serangan rudal dan drone Iran. 

Iran, selama beberapa dekade, telah mendukung Hamas secara finansial dan militer. Hamas merupakan bagian dari poros perlawanan, yang juga mencakup Hizbullah Lebanon dan Houthi Yaman.

Bulan lalu, negara-negara Teluk berkomitmen memberikan dukungan finansial lebih dari USD4 miliar kepada Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Qatar dan Arab Saudi masing-masing berkomitmen USD1 miliar. 

Kuwait juga menjanjikan USD1 miliar, sementara Uni Emirat Arab mengumumkan tambahan dukungan USD1,2 miliar untuk Gaza, melalui dewan tersebut.

Gencatan Senjata yang Rapuh di Gaza

Qatar, bersama AS dan Mesir, selama ini memainkan peran utama sebagai mediator dalam perang di Gaza. 

Kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS telah berlaku di Gaza sejak Oktober 2025, yang dimaksudkan untuk menghentikan serangan Israel selama dua tahun—agresi yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 171.000 sejak Oktober 2023.

Pos terkait