Malam Satu Suro kerap diidentikkan dengan kesan mistis, padahal di lingkungan keraton momen ini diisi dengan rangkaian ritual suci dan sarat makna spiritual.
Masyarakat luas sering kali mengidentikkan Malam Satu Suro sebagai waktu yang mistis dan angker. Stereotipe horor ini salah satunya dipicu oleh pengaruh budaya populer seperti film layar lebar Malam Satu Suro rilisan tahun sembilan belas delapan puluh delapan yang dibintangi oleh aktris legendaris Suzzanna.
Namun, realitas kultural di pusat peradaban Jawa justru menunjukkan hal sebaliknya. Dikutip dari buku Sajen dan Ritual Orang Jawa tahun dua ribu sepuluh karya Wahyana Giri, lingkungan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta justru memaknai momen pergantian tahun ini sebagai malam yang suci dan penuh rahmat.
Untuk menyambut kehadiran bulan suci tersebut, terdapat jajaran upacara adat ritual tahunan yang masih dirawat secara turun-temurun oleh pihak istana maupun masyarakat umum.
Iring-Iringan Kerbau Istana dan Tapa Bisu
Dikutip dari babad sejarah Surakarta, Keraton Kasunanan Surakarta rutin menggelar tradisi Kirab Kebo Bule. Kawanan kerbau albino ini merupakan hewan kesayangan istana yang menjadi simbol refleksi atas peristiwa tahun seribu tujuh ratus dua puluh lima, saat Raja Paku Buwono kedua mencari lokasi berdirinya keraton yang baru.
Sementara itu di wilayah Yogyakarta, masyarakat melestarikan ritual mubeng benteng atau berjalan kaki mengelilingi kawasan benteng pelindung istana. Dikutip dari pakem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ritual ini merupakan simbol instrospeksi diri yang mendalam.
“Selama prosesi mengelilingi benteng sejauh beberapa kilometer, para peserta diwajibkan melakukan tapa bisu atau dilarang keras mengeluarkan suara, serta tidak diperkenankan makan dan minum,” tulis aturan adat terkait kekhusyukan ritual.
Pembersihan Pusaka dan Penghormatan Alam
Tradisi ketiga yang tidak kalah sakral adalah jamasan pusaka atau ritual memandikan senjata tradisional seperti keris dan tombak. Langkah pembersihan menggunakan cairan khusus ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan dan perawatan atas karya seni serta warisan historis para leluhur.
Selanjutnya, terdapat ritual larung sesaji yang jamak digelar oleh masyarakat pesisir atau lereng gunung. Dikutip dari kajian sosiologi budaya, ritual sedekah alam dengan menghanyutkan hasil bumi ke lautan ini merupakan bentuk “kesadaran kosmos” atau ungkapan terima kasih manusia kepada alam yang telah memberikan sumber penghidupan.
Sebagai penutup rangkaian, masyarakat tradisional Jawa umumnya menggelar ritual tirakatan pada malam hari. Kegiatan ini diisi dengan cara menyendiri di tempat sunyi sembari memanjatkan doa, wirid, serta puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keselamatan hidup di tahun yang baru.***




