Malam Satu Suro dua ribu dua puluh enam jatuh pada Senin malam seiring bergantinya penanggalan Hijriah masuk ke satu Muharram seratus empat puluh delapan.
Umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut kehadiran Tahun Baru Islam satu Muharram seratus empat puluh delapan Hijriah yang jatuh pada Selasa, enam belas Juni dua ribu dua puluh enam. Di kalangan masyarakat suku Jawa, momentum pergantian tahun ini akrab diperingati sebagai malam satu Suro.
Dikutip dari penjelasan resmi Kementerian Agama RI, bulan Suro disakralkan oleh masyarakat karena memiliki keterikatan historis yang kuat dengan syiar Islam. Berbeda dengan kalender Masehi, pergantian hari pada kalender Jawa dimulai saat matahari terbenam atau selepas waktu magrib pada hari sebelumnya.
Sistem penanggalan Jawa merupakan mahakarya sinkretisme budaya yang menggabungkan tiga unsur kalender sekaligus, yakni penanggalan Hijriah (Islam), kalender Masehi (Barat), dan kalender Saka (Hindu) demi menyatukan keberagaman masyarakat pada masa silam.
Jejak Rekam Dakwah Sultan Agung
Dikutip dari catatan sejarah Nusantara, embrio penyesuaian penanggalan ini sejatinya telah dirintis oleh Sunan Giri kedua pada zaman pemerintahan Kerajaan Demak sekitar tahun sembilan ratus tiga puluh satu Hijriah untuk memperkenalkan metode Islam.
Langkah tersebut kemudian disempurnakan secara masif oleh Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Proses peleburan komparatif ini resmi dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadilakhir tahun seribu lima ratus lima puluh lima Saka, atau bertepatan dengan delapan Juli seribu enam ratus tiga puluh tiga Masehi.
Dikutip dari manuskrip Kesultanan Mataram, Sultan Agung menaruh visi besar untuk menyatukan Pulau Jawa. Sang raja bertekad mengikis polarisasi yang memisahkan kelompok masyarakat santri dan kaum abangan agar tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan keyakinan.
“Sultan Agung menginisiasi laporan pemerintahan berkala setiap Jumat Legi yang dipadukan dengan agenda pengajian, ziarah kubur, serta haul ke makam suci Sunan Ampel dan Sunan Giri,” tulis dokumen babad tanah Jawa terkait dikeramatkannya hari tersebut.
Nilai Filosofi Eling dan Waspada
Sistem kultural yang diwariskan dari akulturasi ini melahirkan pandangan hidup yang mendalam. Sepanjang bulan Suro, masyarakat Jawa diimbau untuk mempraktikkan laku spiritual berupa sikap eling dan waspada guna membersihkan diri dari hajat duniawi.
Eling menuntut kesadaran batin manusia agar selalu ingat akan hakikat asal-usul penciptaan dirinya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sementara aspek waspada menjadi perisai jiwa agar manusia selalu terjaga dari rupa-rupa godaan ego yang menyesatkan.
Dikutip dari pakem adat kraton, barangsiapa yang kedapatan memanfaatkan momentum sakral ini untuk agenda di luar mengaji, ziarah, dan refleksi batin, maka mereka diyakini akan mendatangkan kesialan dalam perjalanan hidupnya ke depan.***




