Gelombang kritik ini bukan sekadar wacana. Pada April 2014, Mahkamah Konstitusi mengabulkan judicial review dan melarang MPR menggunakan frasa “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara.”
Putusan itu menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh disetarakan kedudukannya dengan UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila adalah dasar negara dan sumber nilai bagi ketiga prinsip lainnya.
Jalan Tengah yang Tak Menyelesaikan Apa-Apa
MPR merespons putusan itu dengan mengambil langkah minimum: mengubah nama program dari “Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” menjadi “Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.” Sebuah pergeseran diksi, bukan substansi.
Mantan Ketua Badan Sosialisasi MPR Ahmad Basarah pernah menyatakan MPR tidak dapat meninggalkan warisan dari pimpinan sebelumnya, Taufiq Kiemas, mengenai penggunaan “empat pilar”. Frasa tersebut, katanya, sudah cukup menjadi merek dalam rangka sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Merek, bukan kebenaran ilmiah — itulah yang dipertahankan. Program pun terus berjalan. Para ahli hukum tata negara menilai putusan MK bersifat mengikat dan harus dilaksanakan semua pihak, namun kenyataannya keputusan itu diabaikan oleh DPR/MPR. Generasi demi generasi pelajar terus dikompetisikan dalam bingkai konsep yang telah dinyatakan bermasalah secara konstitusional.
Pontianak: Ketika Masalah Teknis Bertemu Masalah Struktural
Maka, ketika video final LCC tingkat Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 beredar di media sosial, amarah publik tidak datang dari ruang kosong.
Dalam rekaman yang bisa disaksikan di kanal YouTube resmi MPR, juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang sama dari dua peserta. Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK, sementara jawaban serupa yang disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas justru diberi nilai penuh.
Siswi yang menjadi sorotan adalah Josepha Alexandra — akrab disapa Ocha — yang pada September 2025 bersama timnya meraih juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat dan lolos ke Grand Final nasional di Jakarta. Kali ini, keberaniannya mempertahankan jawaban yang benar justru menghasilkan pengurangan poin.




