LCC Empat Pilar MPR: Lomba Konstitusi yang Problematik sejak Fondasi

Acara LCC Empat Pilar di Pontianak yang berujung kontroversi. TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE MPRGOID

Mantan Ketua Badan Sosialisasi MPR Ahmad Basarah pernah menyatakan MPR tidak dapat meninggalkan warisan dari pimpinan sebelumnya, Taufiq Kiemas, mengenai penggunaan “empat pilar”. Frasa tersebut, katanya, sudah cukup menjadi merek dalam rangka sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Merek, bukan kebenaran ilmiah — itulah yang dipertahankan. Program pun terus berjalan. Para ahli hukum tata negara menilai putusan MK bersifat mengikat dan harus dilaksanakan semua pihak, namun kenyataannya keputusan itu diabaikan oleh DPR/MPR. Generasi demi generasi pelajar terus dikompetisikan dalam bingkai konsep yang telah dinyatakan bermasalah secara konstitusional.

Pontianak: Ketika Masalah Teknis Bertemu Masalah Struktural

Maka, ketika video final LCC tingkat Kalimantan Barat pada 9 Mei 2026 beredar di media sosial, amarah publik tidak datang dari ruang kosong. 

Bacaan Lainnya

Dalam rekaman yang bisa disaksikan di kanal YouTube resmi MPR, juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang sama dari dua peserta. Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK, sementara jawaban serupa yang disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas justru diberi nilai penuh.

Siswi yang menjadi sorotan adalah Josepha Alexandra — akrab disapa Ocha — yang pada September 2025 bersama timnya meraih juara 1 LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat dan lolos ke Grand Final nasional di Jakarta. Kali ini, keberaniannya mempertahankan jawaban yang benar justru menghasilkan pengurangan poin.

Juri Indri Wahyuni, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, menyatakan bahwa artikulasi penting dan jika peserta merasa sudah menjawab dengan benar namun juri tidak mendengar dengan jelas, dewan juri berhak memberikan nilai minus lima. Pernyataan itu justru memperkeruh keadaan.

Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda, yang juga alumni SMAN 1 Pontianak, mendesak agar juri di-blacklist dan tidak boleh digunakan lagi. “Ini preseden buruk dan saya kira apapun alasannya ini mencederai intelektualitas dan nilai-nilai konstitusionalisme yang kita anut selama ini,” tegasnya.

MPR RI akhirnya menonaktifkan seluruh dewan juri dan MC kegiatan LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat melalui pernyataan resmi pada Selasa, 12 Mei 2026, serta berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penilaian, verifikasi jawaban peserta, dan tata kelola keberatan.

Tiga Masalah dalam Satu Program

Insiden Pontianak mengungkap tiga lapis persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menonaktifkan juri.

Di lapisan paling dalam adalah masalah konseptual yang belum pernah benar-benar tuntas: program bernama “Empat Pilar” masih berjalan dengan logika yang sama — Pancasila diperlakukan setara dengan elemen lain — meski kulit terluarnya sudah diganti sejak 2014. Generasi yang berkompetisi hari ini mewarisi kekacauan konsep yang sudah diputuskan bermasalah oleh lembaga tertinggi di bidang konstitusi.

Di lapisan tengah adalah masalah kompetensi: para juri adalah pejabat struktural Sekretariat Jenderal MPR, bukan pakar pedagogi atau praktisi kompetisi ilmiah. Tanpa mekanisme verifikasi jawaban berbasis rekaman audio/video dan tanpa prosedur keberatan yang tertulis dan dapat dijalankan di tempat, keadilan bergantung pada persepsi subjektif juri di panggung.

Di lapisan paling luar — yang paling terlihat namun sesungguhnya paling dangkal — adalah masalah akuntabilitas publik. Ketika keputusan keliru viral dan tekanan sosial memuncak, respons institusi adalah menonaktifkan pelaksana. Akar masalah tetap tak tersentuh.

MPR menyatakan lomba cerdas cermat harus menjunjung sportivitas dan keadilan, serta dewan juri harusnya objektif. Pernyataan yang sepenuhnya benar — dan sepenuhnya datang terlambat.

Sebuah lomba yang berambisi menanamkan nilai-nilai konstitusi kepada generasi muda belum selesai memperbaiki dirinya sendiri. Barangkali itulah pelajaran terpenting dari seluruh polemik ini: mengajarkan konstitusi membutuhkan lebih dari soal pilihan ganda dan sesi rebutan bel. Ia dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa fondasinya sendiri perlu dibenahi.***

Pos terkait