Menurut data Kantor Hak Asasi Manusia PBB, hampir 70 persen dari korban tewas dalam perang Gaza yang telah diverifikasi adalah wanita dan anak-anak. Lembaga ini menyebut invasi Israel ke Gaza sebagai ‘pelanggaran sistematis terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional’.
“Temuan ini menunjukkan pelanggaran sistematis terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional, termasuk pembedaan dan proporsionalitas,” demikian pernyataan Kantor Hak Asasi PBB pada Jumat (8/11/2024), dikutip dari Reuters.
Menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, penghitungan jumlah korban jiwa dan kategorisasinya penting dilakukan, untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dalam perang tersebut.
“Sangat penting untuk melakukan penghitungan yang tepat terkait tuduhan pelanggaran serius hukum internasional melalui badan peradilan yang kredibel dan tidak memihak. Semua informasi dan bukti yang relevan dikumpulkan dan disimpan,” katanya.
Hitungan PBB terkait korban tewas ini hanya mencakup korban yang berhasil diverifikasi dengan tiga sumber.
Menurut data tersebut, ada 8.119 korban yang diverifikasi. Jumlah ini jauh lebih rendah daripada data otoritas kesehatan Palestina, yang menyebut jumlah korban dalam perang yang berlangsung selama 13 bulan itu lebih dari 43.000.
Namun demikian, perincian PBB tentang usia dan jenis kelamin korban mendukung pernyataan Palestina, yang menyebutkan bahwa wanita dan anak-anak mewakili sebagian besar dari mereka yang tewas dalam perang tersebut
Misi diplomatik Israel untuk PBB di Jenewa menyatakan tegas menolak laporan tersebut.
“Sekali lagi, OHCHR (Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB) gagal mencerminkan realitas di lapangan secara akurat, dan mengabaikan peran besar Hamas dan organisasi teroris lainnya, dalam hal secara sengaja menyebabkan kerugian bagi warga sipil di Gaza,” katanya.
Menurut pihak Israel, Hamas sengaja bersembunyi di antara warga sipil dan menggunakan mereka sebagai tameng manusia. Maka dari itu, menurut Israel, para militan Hamas lah yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil.
Sedangkan Hamas telah membantah menggunakan warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sebagai tameng manusia.***





