Kolaborasi Maarif Institute dan Seniman Minang Hidupkan Warisan Buya Syafii Lewat Visual Kekinian

Pentas budaya bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” yang digelar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Ahad (31/5/2026). – MAARIF Institute
Jejak pemikiran Buya Syafii Maarif kembali hidup lewat seni naratif-musikal yang memukau di ISI Padang Panjang, Ahad (31/5).

Sosok Ahmad Syafii Maarif kembali hadir menyapa publik, namun kali ini dengan cara yang jauh berbeda. Alih-alih duduk diam dalam ruang diskusi akademik yang kaku, generasi muda justru diajak meresapi pemikiran sang Guru Bangsa melalui hentakan musik kontemporer dan visual multimedia yang memanjakan mata.

MAARIF Institute, berkolaborasi dengan Komunitas Talago Buni dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, sukses menggelar pentas budaya bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Minggu (31/5/2026) malam.

Pagelaran gratis ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Acara ini menandai peringatan Bulan Buya—momen merayakan hari lahir cendekiawan muslim asal Minangkabau tersebut (31 Mei 1935), sekaligus mengenang empat tahun kepergiannya.

Bacaan Lainnya
Ruang Refleksi di Tengah Riuh Zaman

Memilih Sumatera Barat sebagai lokasi perhelatan tentu memiliki makna tersendiri. Tanah Minangkabau menyimpan kedekatan historis yang kuat dengan perjalanan hidup dan akar pemikiran Buya Syafii.

Manajer Pelaksana MAARIF Institute, Akbar Nicholas, menegaskan bahwa pentas budaya ini membawa pesan yang sangat mendalam bagi masyarakat.

“Dipilihnya Ranah Minang sebagai simpul kedua dari rangkaian tiga kota ini membawa pesan mendalam. Agenda pentas budaya ini bukan sekadar sebuah tontonan semata, melainkan sebuah undangan terbuka untuk merenung bersama di tengah riuh dan dinamisnya tantangan zaman,” kata Akbar.

Menjaga Suluh Hati Nurani Bangsa

Semasa hidupnya, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998–2005) ini konsisten menyuarakan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang inklusif. MAARIF Institute bertekad menjaga nyala nilai-nilai tersebut agar tidak rentan tergerus waktu.

Menyambung hal itu, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, menilai peringatan Bulan Buya ini sebagai sebuah langkah strategis. Tujuannya sangat jelas: merawat sekaligus memperkenalkan kembali gagasan sang Guru Bangsa kepada generasi muda yang hidup di tengah kemajemukan.

“Tema besar kegiatan tahun ini adalah Merawat Suluh, Menjaga Hati Nurani Bangsa. Kami ingin pemikiran Buya Syafi’i tetap hidup sebagai cahaya moral dan kebangsaan,” ujar Andar.

Untuk memperluas gaung pesan tersebut, Andar memaparkan bahwa rangkaian acara tahun ini bergulir melintasi tiga kota. Estafet peringatan bermula dari pameran seni rupa “Suluh” di Yogyakarta yang terus menyapa pengunjung hingga 7 Juli mendatang.

Kini, setelah kemeriahannya singgah di Padang Panjang, puncak perayaan bersiap menyapa publik di Museum Nasional Jakarta pada 18 Juni nanti. Pada perhelatan puncak tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dijadwalkan merangkum seluruh semangat kebangsaan ini melalui sebuah Pidato Kebudayaan.

Pos terkait