JAKARTA—Pemilihan Umum (Pemilu) di Bolivia pada tahun 2019 menjadi sorotan internasional. Terjadi serangkaian protes dan kerusuhan di negara Amerika Latin tersebut, yang berujung pengunduran diri mantan Presiden Evo Morales.
Pemilu Bolivia, yang diwarnai dugaan kecurangan, telah menciptakan ketegangan politik yang cukup parah di salah satu negara penghasil minyak tersebut. Memicu gelombang demonstrasi yang mengakibatkan perubahan dramatis dalam lanskap politik Bolivia.
Bolivia melaksanakan pemilu untuk memilih presiden, parlemen, dan otoritas lokal pada 20 Oktober 2019. Evo Morales, tokoh kiri dari masyarakat adat setempat, yang telah memimpin negara tersebut selama hampir 14 tahun, kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempatnya. Namun, pemilu ini disertai dengan kontroversi. Muncul kecurigaan telah terjadi kecurangan dalam perhitungan suara.
Salah satu indikasi utama kecurangan adalah ditemukannya pola yang mencurigakan dalam perhitungan suara Pemilu Bolivia. Pengamat internasional dari Organisasi Negara Amerika (OAS) melaporkan bahwa sebagian besar perolehan suara menguntungkan Evo Morales. Tiba-tiba muncul peroleh suara yang sangat massif di daerah-daerah pedesaan tradisional, setelah pemungutan suara digelar.
OAS juga melaporkan adanya ketidakberesan dalam transmisi hasil perhitungan suara dari tempat pemungutan suara (TPS) ke pusat pemrosesan data. Hal ini terjadi karena, menurut laporan OAS, perangkat lunak yang digunakan dalam proses pemungutan suara telah dimanipulasi untuk menguntungkan kandidat tertentu—yang merujuk pada Morales.
Selain itu, muncul pula laporan bahwa kelompok-kelompok oposisi atau non-pemerintah dihalangi atau dibatasi aksesnya ke pusat pemilihan, yang menyebabkan terganggunya transparansi dan akuntabilitas proses pemungutan suara.
Seluruh temuan OAS itu akhirnya menimbulkan ketegangan. Ketegangan pertama berkobar pada malam pemilihan presiden, setelah hasil penghitungan suara dihentikan sementara selama 24 jam. Hasilnya menunjukkan bahwa Morales unggul 10 persen suara lebih dari kompetitornya—angka yang dibutuhkannya untuk langsung menang di putaran pertama pemilu.
Seorang wali kota di Bolivia bernama Patricia Acre diseret di jalanan tanpa alas kaki, lalu disiram dengan cat merah dan rambutnya dicukur paksa oleh para demonstran anti-pemerintah. Gara-garanya Acre dituduh mengerahkan pasukan pendukung presiden untuk membubarkan unjuk rasa dan berperan dalam kematian dua pengunjuk rasa.
Setidaknya tiga orang tewas dalam bentrokan yang terjadi kemudian. Beberapa petugas polisi berseragam juga bergabung dengan para demonstran menentang hasil tersebut.

Pada Ahad, 10 November 2019, Organisasi Negara-negara Bagian Amerika yang mengawasi jalannya pemilu, mengatakan bahwa mereka telah menemukan bukti manipulasi data skala besar, dan tidak dapat mengesahkan hasil penghitungan suara sebelumnya.





