Tak hanya Israel, Khamenei juga menyampaikan selamat atas kemenangan melawan Amerika Serikat, yang disebutnya melakukan agresi tanpa alasan terhadap situs nuklir Iran. Serangan itu dibalas dengan peluncuran rudal ke pangkalan militer terbesar milik AS di Asia Barat, yakni Al Udeid di Qatar.
“Di sini, Republik Islam muncul sebagai pemenang. Kami memberikan pukulan telak kepada AS, khususnya di pangkalan Al Udeid yang menjadi salah satu pusat operasi regional mereka. Kerusakan besar ditimbulkan,” tegasnya.
Menurut Khamenei, pihak-pihak yang selama ini membesar-besarkan kekuatan mereka kini justru mengecilkan serangan balasan Iran. Mereka mengklaim tidak terjadi apa-apa, padahal sebenarnya “sesuatu yang besar telah terjadi”.
Ia menilai fakta bahwa Republik Islam dapat menargetkan dan menghantam fasilitas vital milik Amerika di kawasan menunjukkan kekuatan strategis Iran yang tidak bisa dianggap remeh.
“Ini adalah perkembangan besar. Dan itu bisa terjadi lagi di masa mendatang,” katanya memperingatkan. “Jika agresi diulang, musuh akan menghadapi kerugian yang jauh lebih besar.”
Pada bagian akhir pesannya, Khamenei memuji persatuan rakyat Iran di tengah agresi Israel-Amerika.
“Berkat rahmat Tuhan, sebuah bangsa yang hampir 90 juta jiwa berdiri sebagai satu kesatuan—bersatu dalam suara dan tujuan, bahu-membahu, tanpa ada perpecahan dalam tuntutan atau niat,” ujarnya.
Menurutnya, bangsa Iran telah menunjukkan karakter besar, mendukung penuh tindakan militer, dan tetap berdiri teguh dalam kesatuan nasional.
Ia juga mengecam pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyarankan Iran untuk menyerah.
“Pernyataan seperti itu terlalu muluk untuk diucapkan oleh seorang presiden,” sindirnya. “Negara seperti Iran—dengan sejarah besar, budaya luhur, dan tekad yang ditempa baja—membicarakan penyerahan terhadap bangsa ini adalah lelucon bagi siapa pun yang mengenal rakyat Iran.”
Khamenei menilai pernyataan Trump hanya memperjelas bahwa sejak Revolusi Islam 1979, Amerika memang ingin Iran menyerah total.





