Khamenei mendeklarasikan kemenangan Iran atas Israel dan AS, memuji persatuan rakyat Iran, dan memperingatkan agresor: setiap serangan akan dibalas lebih keras. Ia menyindir Trump dan tegaskan Iran takkan pernah menyerah.
__________
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, menyampaikan pidato kemenangan atas Israel setelah agresi militer berakhir dan Tel Aviv mengumumkan gencatan senjata sepihak, Kamis, 26 Juni 2025. Dalam siaran nasional, Khamenei mengucapkan selamat kepada rakyat Iran atas apa yang disebutnya sebagai “kemenangan gemilang” atas rezim Zionis.
Pernyataan itu disampaikan Khamenei dalam siaran televisi nasional, yang menjadi pesan ketiganya sejak Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 13 Juni lalu.
“Saya ucapkan selamat kepada bangsa Iran yang agung. Pertama, atas kemenangan atas rezim Zionis palsu. Meskipun mereka banyak berkoar, rezim Zionis kini nyaris bertekuk lutut dan hancur di bawah pukulan Republik Islam,” kata Khamenei dalam pidatonya seperti dilansir Press TV, Jumat, 27 Juni 2025.
Ia menyebut keberhasilan Iran sebagai pukulan besar terhadap musuh yang sebelumnya tak pernah membayangkan kemampuan militer Teheran bisa menembus pertahanan berlapis dan menyerang jantung kota serta instalasi militer Israel.
“Kami bersyukur kepada Tuhan karena telah menolong angkatan bersenjata kita. Mereka mampu menembus sistem pertahanan canggih musuh dan menghancurkan pusat militer serta sejumlah kawasan urban dengan rudal dan senjata berat,” tambahnya.
Khamenei juga memberikan penghormatan kepada para syuhada, termasuk komandan militer dan ilmuwan Iran, yang menurutnya telah memberikan pengabdian penuh hingga akhir hayat.
“Mereka adalah orang-orang berharga bagi Republik Islam. Kesetiaan mereka telah menjadi sumber kekuatan dan kemenangan ini,” ujar Khamenei.
Ia juga menegaskan bahwa kemenangan itu menjadi peringatan keras bagi rezim Zionis, bahwa setiap agresi terhadap Republik Islam harus dibayar dengan harga sangat mahal. Ia memuji angkatan bersenjata dan rakyat Iran atas keberhasilan tersebut.
Tak hanya Israel, Khamenei juga menyampaikan selamat atas kemenangan melawan Amerika Serikat, yang disebutnya melakukan agresi tanpa alasan terhadap situs nuklir Iran. Serangan itu dibalas dengan peluncuran rudal ke pangkalan militer terbesar milik AS di Asia Barat, yakni Al Udeid di Qatar.
“Di sini, Republik Islam muncul sebagai pemenang. Kami memberikan pukulan telak kepada AS, khususnya di pangkalan Al Udeid yang menjadi salah satu pusat operasi regional mereka. Kerusakan besar ditimbulkan,” tegasnya.
Menurut Khamenei, pihak-pihak yang selama ini membesar-besarkan kekuatan mereka kini justru mengecilkan serangan balasan Iran. Mereka mengklaim tidak terjadi apa-apa, padahal sebenarnya “sesuatu yang besar telah terjadi”.
Ia menilai fakta bahwa Republik Islam dapat menargetkan dan menghantam fasilitas vital milik Amerika di kawasan menunjukkan kekuatan strategis Iran yang tidak bisa dianggap remeh.
“Ini adalah perkembangan besar. Dan itu bisa terjadi lagi di masa mendatang,” katanya memperingatkan. “Jika agresi diulang, musuh akan menghadapi kerugian yang jauh lebih besar.”
Pada bagian akhir pesannya, Khamenei memuji persatuan rakyat Iran di tengah agresi Israel-Amerika.
“Berkat rahmat Tuhan, sebuah bangsa yang hampir 90 juta jiwa berdiri sebagai satu kesatuan—bersatu dalam suara dan tujuan, bahu-membahu, tanpa ada perpecahan dalam tuntutan atau niat,” ujarnya.
Menurutnya, bangsa Iran telah menunjukkan karakter besar, mendukung penuh tindakan militer, dan tetap berdiri teguh dalam kesatuan nasional.
Ia juga mengecam pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyarankan Iran untuk menyerah.
“Pernyataan seperti itu terlalu muluk untuk diucapkan oleh seorang presiden,” sindirnya. “Negara seperti Iran—dengan sejarah besar, budaya luhur, dan tekad yang ditempa baja—membicarakan penyerahan terhadap bangsa ini adalah lelucon bagi siapa pun yang mengenal rakyat Iran.”
Khamenei menilai pernyataan Trump hanya memperjelas bahwa sejak Revolusi Islam 1979, Amerika memang ingin Iran menyerah total.
“Setiap presiden mereka selalu punya alasan berbeda—hak asasi manusia, demokrasi, hak perempuan, uranium, rudal. Tapi di balik itu semua, tujuannya satu: memaksa kita menyerah,” ujarnya.
Bedanya, kata Khamenei, pendahulu Trump tak pernah mengucapkan keinginan itu secara gamblang. Tapi Trump justru membeberkan secara terang-terangan bahwa AS hanya akan puas jika Iran menyerah sepenuhnya.
“Inilah akar permusuhan Amerika terhadap kita. Inilah penghinaan besar terhadap negara kami, dan itu tidak akan pernah terjadi,” tegasnya.
Ia menutup dengan mengingatkan bahwa Iran adalah bangsa besar, berperadaban tua, dan kaya budaya.
“Meminta bangsa seperti Iran untuk menyerah adalah omong kosong belaka. Itu pasti ditertawakan oleh siapa pun yang memiliki akal sehat,” kata Ayatollah Khamenei. “Bangsa Iran adalah bangsa terhormat—dan dengan izin Tuhan, akan tetap menang.”***





