Khamenei Gugur di Tangan AS-Israel: Mengapa Arab Bungkam tapi Marah saat Iran Balas Dendam?

Ketika AS dan Israel melancarkan serangan bertubi-tubi ke Iran, negara-negara Arab malah cenderung berpihak kepada Washington bahkan mengecam Teheran. - AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Khamenei gugur akibat serangan AS-Israel. Namun, sikap bungkam negara Arab saat serangan terjadi memicu tanya. Ada apa sebenarnya?

Kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang total. Operasi militer brutal Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir pekan lalu (28/2) berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta keluarganya. Kematian sang pemimpin memicu badai rudal balasan dari Iran yang menyasar pangkalan militer AS di berbagai negara.

Namun, yang menjadi sorotan dunia bukanlah sekadar adu rudal, melainkan sikap “standar ganda” negara-negara Arab. Mereka diam seribu bahasa saat kedaulatan Iran diinjak-injak, namun mendadak murka ketika Iran meluncurkan serangan balasan.

Terjerat “Board of Peace” Donald Trump

Kebisuan negara-negara Teluk bukan tanpa alasan. Pengamat Timur Tengah sekaligus Ketua Program Studi Doktor Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesi, Yon Machmudi, mengungkap adanya pengaruh organisasi baru bentukan Donald Trump bernama Board of Peace (BoP).

Bacaan Lainnya

“Momentum serangan ini terjadi tepat saat negara-negara Arab terikat dalam Board of Peace. Sebagai ketua, Trump membuat anggota seperti Arab Saudi dan UEA sulit mengecam tindakan AS,” jelas Yon (3/3).

Ironisnya, organisasi yang mengusung nama “Perdamaian” ini justru menjadi payung bagi operasi militer paling agresif di dekade ini.

Ketergantungan Keamanan yang Akut

Pakar Hubungan Internasional UI, Sya’roni Rofii, menilai negara-negara Arab saat ini sedang tersandera. Keberadaan pangkalan militer AS di Arab Saudi, Qatar, hingga Irak membuat negara-negara tersebut sangat bergantung pada perlindungan Washington.

“Secara keamanan, mereka sangat bergantung pada proteksi AS. Itulah mengapa mereka merasa kedaulatannya dilanggar saat rudal Iran melintasi wilayah mereka, meski targetnya adalah aset AS,” ujar Sya’roni.

Misi Rahasia: Minyak dan Nuklir

Di balik layar, perang ini diduga kuat memiliki agenda tersembunyi. Yon Machmudi menganalisis bahwa AS ingin memanfaatkan momen ini untuk melucuti program nuklir Iran secara total dan menguasai cadangan minyak terbesar ketiga di dunia.

Washington berambisi menciptakan Timur Tengah yang sepenuhnya “jinak” terhadap kepentingan Barat (US-friendly) dan memaksa seluruh kawasan melakukan normalisasi dengan Israel.

Iran Menolak Menyerah: Perang Panjang Menanti

AS dan Israel awalnya memprediksi rezim Teheran akan langsung runtuh setelah Khamenei wafat. Namun, perhitungan itu meleset tajam. Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) justru mengamuk dengan menghantam 27 pangkalan AS dan aset vital Israel, termasuk markas pertahanan di Be’er Sheva.

“Iran membalas dengan kekuatan penuh. Perang ini tidak akan selesai dalam hitungan hari. Teheran bahkan tegas menolak negosiasi dari Trump,” tambah Yon.

Saatnya Dunia Arab Bersuara

Pusaran konflik ini menjadi ujian bagi kemandirian diplomasi negara-negara Arab. Terus bersembunyi di bawah ketiak Washington hanya akan menanam bom waktu di halaman sendiri. Jika negara-negara GCC tidak segera bersuara bulat mendesak gencatan senjata, krisis global yang lebih mengerikan sudah pasti menanti di depan mata.***

Pos terkait