Nahdlatul Wathan bisa memiliki sebuah gedung di daerah Kawatan, Surabaya, berkat bantuan kawan-kawan Mbah Wahab. Gedung ini juga difungsikan sebagai Gedung Lembaga Pendidikan Nahdlatul Wathan. Di kemudian hari, bangunan itu menjadi markas Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama atau HBNO—lembaga yang kini dikenal sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU.
Lagu Syubanul Wathan, atau lebih dikenal dengan Ya Lal Wathan, menjadi lagu wajib yang dikumandangkan setiap memulai kegiatan Perguruan Nahdlatul Wathan. Perguruan pun berkembang sangat pesat. Kondisi tersebut tampak dari antusiasme beberapa daerah di Surabaya maupun luar Surabaya yang antusias membuka cabang-cabang baru guna mengakomodir minat para pemuda di daerah-daerah agar bisa mendapatkan pendidikan dan wadah pergerakan. Hingga kemudian berdirilah Ahlul Wathan di Wonokromo dan Semarang; Far’ul Wathan di Gresik dan Malang; Hidayatul Wathan di Kampung Jagalan, Surabaya dan Jombang; serta Khitabatul Wathan di Pacar Keling, Surabaya.
Selain Nahdlatul Wathan dan Taswirul Afkar, Sarekat Islam (SI) adalah pergerakan lain yang dia motori bersama rekan-rekannya ketika masih menuntut ilmu di Makkah. Pergerakan ini bukan sekadar mengumpulkan cendekiawan dari kalangan Islam tanah air, juga ingin memajukan kaum Islam yang rendah ekonominya dan rendah pengetahuannya.
Wahab Chasbullah juga ikut mendirikan Majelis Islam Ala Indonesia atau MIAI bersama KH. Achmad Dahlan dari Muhammadiyah dan KH. Mas Mansyur. MIAI dibentuk di Surabaya pada tahun 1937. Lembaga ini lahir berkat kesadaran perlunya menciptakan suasana hubungan yang baik antara partai dan organisasi-organisasi Islam saat itu. Namun, pada bulan Oktober 1943, MIAI dibubarkan Jepang karena dianggap membahayakan kedudukan Dai Nippon.
Pada masa pasca-kemerdekaan Indonesia, Mbah Wahab aktif berkiprah sebagai penasihat di Masyumi—yangberanggotakan kalangan NU dan Muhammadiyah.
Mbah Wahab tak pernah kehabisan cara untuk membangun pergerakan.—bersambung—
*Sumber Foto Utama: Blogspot.com





