Mas Mansyur adalah sahabat Wahab Chasbullah. Sama-sama berpikiran progresif-reaksioner. Sama-sama kosmopolit. Dan dari kolaborasi gaya pemikiran mereka berdua, lahirlah klub diskusi bernama Tashwirul Afkar pada tahun 1914.
Tashwirul Afkar menghimpun ulama pesantren, sekaligus jadi ajang komunikasi dan forum tukar informasi antar-tokoh nasional. Forum ini juga menjadi jembatan komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Sifat rekrutmennya lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak. Kelompok diskusi ini pun menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.
Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Wahab Chasbullah bareng Mas Mansyur ini merupakan warisan penting bagi kaum Muslimin Indonesia. Mbah Wahab mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental.
Kebebasan berpikir dan berpendapat itu tidak akan mengurangi roh spiritualisme umat beragama maupun kadar keimanan seorang Muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, menurut Wahab Chasbullah, seorang Muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.
Berangkat dari kelompok diskusi ini, Mbah Wahab kemudian menghimpun para ulama di kampungnya, di Kertopaten, Surabaya, Jawa Timur, untuk mendirikan Nahdlatul Wathan pada tahun 1916.
Menurut sejarawan NU Choirul Anam, lahirnya Nahdlatul Wathan merupakan salah satu upaya Wahab Chasbullah untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Nahdlatul Wathan lahir satu dekade lebih dulu dari NU—yang baru lahir pada 31 Januari 1926. “Nahdlatul Wathan, kalau diterjemahkan sekarang, adalah ‘sekolah kebangsaan’,” terang Choirul.
Pada masa mudanya, Wahab Chasbullah bahkan sudah berpikir jauh tentang bagaimana membangun nasionalisme bangsa yang dijiwai nilai-nilai Islam. Perkumpulan yang dia bentuk berfungsi untuk menampung para pemuda agar memperoleh ilmu sesuai kebutuhan masa itu. Selain itu, juga sebagai wadah pergerakan pemuda menyikapi kondisi politik negara yang masih dibatasi oleh aturan-aturan kolonial.
Nahdlatul Wathan sebenarnya lahir berbarengan dengan Taswirul Afkar pada tahun 1914—namun baru diakui sebagai sebuah lembaga formal pada tahun 1916. Di Tahun 1916 inilah fase awal kemandirian pergerakan dimulai—di mana seiring dengan perjalanan sejarah, gerakan ini nantinya akan melahirkan Nahdlatul Ulama.





