Ketum PBNU Ngaku Tak Tahu Berkowitz Pro-Zionis, Bisa Rusak NU dalam Jangka Panjang

Peter Berkowitz. - Istimewa
Diaspora NU minta literasi elite PBNU diperkuat. Jika tidak, itu bisa jadi bahaya jangka panjang bagi jam’iyyah.

__________

Kehadiran akademikus asal Stanford, Peter Berkowitz—tokoh yang dikenal pro-Zionis—dalam Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) NU di Jakarta, Jumat, 15 Agustus 2025, memicu keprihatinan luas. Suara keras datang dari diaspora Nahdliyyin di Amerika-Kanada hingga kiai pesantren di Rembang.

M. Izzul Haq, mantan Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU AS-Kanada, menilai insiden ini bukti lemahnya literasi di jajaran elite PBNU.

Bacaan Lainnya

“Jika benar Ketum PBNU tidak tahu bahwa Berkowitz itu propagandis Zionis, berarti literasi para elit sangat rendah,” kata pria yang akrab disapa Gus Izzul itu kepada Samudrafakta, Jumat, 29 Agustus 2025.

Mantan Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat-Kanada (PCINU AS-K) Muhammad Izzul Haq

Gus Izzul—kini A’wan Syuriah PCINU AS-Kanada—menyebut seharusnya diaspora NU dilibatkan untuk memberi masukan. Ia bahkan mengusulkan dibuat katalog akademikus Barat pro-Zionis sebagai panduan PBNU.

“Lengkap dengan afiliasi, ide pokok, jaringan, funding, hingga karya. Jadi, tidak asal undang sana-sini,” ujarnya. Ia menilai jargon internasionalisasi PBNU perlu diimbangi filter ketat agar tak merugikan citra organisasi.

Nada lebih tegas datang dari KH. Achmad Rosikh Roghibi, pengasuh Ponpes MIS Sarang, Rembang. Kata pria yang akrab disapa Gus Rosikh itu, mengundang Berkowitz ke forum elite NU sebagai langkah berbahaya.

“Itu kursus untuk para petinggi PBNU. Ilmunya dari orang-orang yang tidak jelas sanadnya. Ada yang dari Zionis dan liberal. Mereka semua pemain global,” kata Gus Rosikh, Rabu, 27 Agustus 2025.

Menurutnya, polemik ini bisa merusak NU dalam jangka panjang. “Ambyar kabeh. NU bisa rusak, bukan dari jamaahnya, tapi dari elit pengurusnya. Lalu merembet ke bawah,” ujarnya. Ia menuntut Rais Aam dan Ketum PBNU Yahya Staquf bertanggung jawab, mengingat AKN NU berada di bawah kepemimpinan mereka.

Gus Rosikh juga menyoroti dominasi narasumber asing di AKN NU. Dari 97 sesi, 85 persen diisi pembicara luar negeri dengan kecenderungan liberal dan pro-Zionis.

Pos terkait