Ketika Membunuh Bayi Menjadi ‘Solusi Ekonomi’ Seorang Dokter

Untuk ‘jasa bunuh’ itu, Miyuki memungut ongkos tambahan di luar biaya persalinan. Kalau pasien tak mau tambah ongkos, Ishikawa tak mau melayani jasa bunuh. Ibu-ibu dan bapak-bapak melarat pun hanya pasrah mengiyakan syarat tersebut. Pertimbangannya, daripada harus mengeluarkan banyak duit dalam jangka panjang untuk merawat dan membesarkan bayi, lebih baik mengeluarkan duit di muka, setelah itu bebas tanggungan selamanya.

Inilah yang mengerikan dari ekonomi yang senantiasa menuntut, terlebih dalam suasana resesi; keputusasaan dan ketakmampuan bernalar panjang. Bayi yang seharusnya adalah anugerah dipersepsikan sebagai musibah.

Proyek Ishikawa pun dimulai. Setiap ibu yang sudah sepakat dengannya langsung dia servis. Dibantu suaminya, dia habisi bayi-bayi yang baru saja menyedot udara untuk beberapa hirup. Bermacam-macam caranya. Ada yang dia rendam dengan air, dia tutup saluran pernapasannya, atau dia benturkan terngkorak bayi yang masih empuk itu ke benda keras. Semakin banyak ibu yang datang, semakin banyak klien, semakin tebal pundi-pundi Miyuki dan Takeshi Ishikawa.

Bacaan Lainnya

Praktik liar itu dilakukan blak-blakan. Biar tak kentara ganjil-ganjil amat, suami istri itu dibantu Shiro Nakayama, dokter RS Kobuki yang juga kawan dekat pasangan tersebut. Si dokter mengeluarkan surat palsu yang berisi keterangan bahwa bayi-bayi itu meninggal alamiah ketika dilahirkan.

Perawat-perawat yang menyaksikan praktik biadab itu jijik. Mereka akhirnya memutuskan keluar dari rumah sakit itu. Mereka tak sanggup melihat orok dibantai. Praktik liar itu berjalan mulus sampai 1948.

Skandal pembantaian itu terbongkar ketika dua petugas kantor polisi Wasseda, Tokyo, menemukan lima bayi korban Miyuki Ishikawa, pada 12 Januari 1948. Ketika bayi-bayi itu diautopsi, terungkaplah fakta bahwa mereka tidak mati alamiah. Mereka dibunuh.

Penyelidikan dimulai.

Polisi mulai melacak kemungkinan adanya bayi-bayi lain yang bernasib serupa. Kebetulan, beberapa perawat yang pernah bekerja pada Ishikawa, dan muak pada praktik pembunuhan itu, ’bernyanyi’ di depan aparat. Miyuki dan Takheshi Ishikawa dicokok 15 Januari 1948. Dokter Shiro, si pembantu setia, juga digelandang. Shiro, nama yang mengingatkan kita pada anjing peliharaan Sinchan.

Selama proses penyelidikan, polisi menemukan 40 mayat bayi di rumah pasangan Ishikawa. Sementara 30 bayi lain tersebar di beberapa kuil. Setelah itu, korban-korban lain ditemukan beruntun secara terpisah, hingga akhirnya terkumpul total 103 mayat bayi. Polisi menduga jumlah korban sebenarnya lebih banyak dari yang berhasil ditemukan itu. Tapi, hingga kasus ditutup, bukti yang berhasil terkumpul hanya berhenti pada angka 103.

Miyuki Ishikawa ketika diamankan oleh kepolisian Jepang. (Dok. Wikipedia)

Sayang, hukum untuk tiga biadab itu cukup ringan. Miyuki, si otak pembantaian, hanya divonis delapan tahun penjara. Sementara dua pembantunya, Takeshi dan Shiro, hanya dibui empat tahun.

Konyolnya, kisah sadis Miyuki ini malah memberi ’inspirasi’ pemerintah Jepang kala itu. Mengingat motivasi pembantaian tersebut ekonomi, pemerintah memutuskan untuk bisa menerimanya. Pada 24 Juni Juni 1949, undang-undang yang melegalkan aborsi dengan alasan ekonomi pun disahkan. Peraturan itu berlaku sampai sekarang. Daripada anak dibunuh setelah lahir, sebaiknya ditiadakan sejak dalam bentuk janin.

Dus, ancaman ekonomi pun dipandang lebih menakutkan daripada dosa yang harus ditanggung.

Apa yang paling menakutkan dari tuntutan ekonomi? Adalah ketika manusia-manusia menjadi lupa.

Dan kalut.

(Pram)

 

Pos terkait