Pada Mei 2025, Business Insider mengumumkan pemangkasan 21% tenaga kerjanya, dibarengi dengan pengumuman adopsi AI secara besar-besaran. CEO-nya, Barbara Peng, menyebut langkah itu vital untuk kelangsungan bisnis. Serikat pekerja (Insider Union) bereaksi keras, menyebut manajemen “tidak berempati” di tengah euforia AI.
Di level global, situasi ini bukan hal baru. Rata-rata tahunan PHK di industri media sudah melonjak dari 7.305 per tahun pada periode 2010–2017 menjadi 14.298 per tahun sejak 2018 — bertahun-tahun sebelum AI generatif seperti ChatGPT meledak ke permukaan publik.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kita tidak perlu jauh-jauh ke Amerika untuk merasakan getarannya.
Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 800 pekerja media mengalami PHK sejak 2024 hingga Juli 2025. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menyebut angka yang lebih besar: lebih dari 1.000 jurnalis terkena PHK sepanjang 2025 saja. Dewan Pers bahkan mencatat, sepanjang 2023–2024, tidak kurang dari 1.200 karyawan perusahaan pers telah terimbas pemangkasan.
Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, yang dikonfirmasi Tirto.id pada Mei 2025, mengakui PHK masih terjadi di banyak media, namun datanya sulit dikumpulkan:
“Mereka baru akan melapor ke AJI bila ada sengketa. Sementara AJI baru bisa melakukan advokasi sengketa ketenagakerjaan bila ada laporan.”
Kondisi ini bukan semata-mata soal AI. Ada masalah struktural yang lebih dalam: sekitar 75 persen iklan nasional perusahaan pers telah diambil alih oleh platform digital global dan media sosial. Data We Are Social per Februari 2025 bahkan mempertegas bahwa Google dan Facebook bersama-sama menguasai 72,9% belanja iklan digital nasional Indonesia. Nilai ekonomi sebuah berita kini bukan lagi soal kedalaman liputannya, melainkan soal seberapa sering ia diklik dan dibagikan.
Jadi, AI yang Salah?
Di sinilah narasi yang berkembang di publik perlu dikoreksi.
AI bukanlah satu-satunya penyebab krisis ini — dan menyempitkan masalah hanya pada AI justru berbahaya karena mengaburkan akar masalah yang lebih sistemik. Namun AI juga bukan sama sekali tidak bersalah. AI berperan sebagai akselerator: ia memperparah krisis yang sudah ada, dan membuka lubang-lubang baru yang belum pernah ada sebelumnya.





