Ketika AI Masuk Redaksi: Ancaman, Peluang, atau Sekadar Kambing Hitam?

Kursi kosong di ruang redaksi menjadi simbol krisis jurnalisme saat AI, platform digital, dan model bisnis lama menekan masa depan media. ILUSTRASI AI GENERATE
Ratusan jurnalis di-PHK, trafik media anjlok, dan AI disalahkan. Apakah AI benar-benar biang keladinya, atau hanya akselerator krisis yang sudah lama membara?

Bayangkan, sebuah redaksi besar. Puluhan jurnalis bekerja di meja masing-masing — ada yang sedang menelepon narasumber, ada yang mengetik cepat mengejar deadline, ada yang berdebat soal angle berita. Lalu, perlahan-lahan, kursi-kursi itu mulai kosong. Bukan karena orang-orangnya berhenti. Tapi karena mereka di-PHK.

Di Washington DC, Amerika Serikat, pada 4 Februari 2026, skenario itu bukan fiksi. Washington Post — salah satu koran paling bersejarah di dunia yang sudah berdiri hampir 150 tahun — mengumumkan pemangkasan sepertiga dari seluruh tenaga kerjanya. Lebih dari 300 dari sekitar 800 jurnalisnya kehilangan pekerjaan dalam satu hari. 

Meja olahraga ditutup. Seksi buku dibubarkan. Biro-biro luar negeri diciutkan drastis — termasuk koresponden yang saat itu sedang meliput dari zona perang di Ukraina.

Bacaan Lainnya

Executive Editor Matt Murray menyebut langkah ini sebagai “a strategic reset” untuk bersaing di era kecerdasan buatan. Ia mengakui koran itu belum berkembang sesuai zamannya, dan menyebut organic search — salah satu sumber trafik terbesar media digital — anjlok hampir setengahnya dalam tiga tahun terakhir, sebagian akibat pertumbuhan AI.

Jeff Stein, kepala koresponden ekonomi Washington Post yang ikut terdampak, menyebut kejadian itu dengan nada pahit dalam laporan Axios: “This is a tragic day for American journalism, the city of Washington, and the country as a whole. They are being punished for mistakes they did not cause.”

Ini Bukan Cuma Soal Washington Post

Kisah Washington Post hanyalah yang paling tersorot. Di baliknya, ada gelombang yang jauh lebih besar.

Berdasarkan data dari lembaga riset ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas, sepanjang 11 bulan pertama 2025, lebih dari 17.000 pekerjaan dipangkas di sektor televisi, film, penyiaran, berita, dan streaming secara global — naik 18% dibanding tahun sebelumnya. Press Gazette mencatat lebih dari 3.400 pekerjaan jurnalisme dipotong di Amerika Serikat dan Inggris sepanjang 2025.

Pada Mei 2025, Business Insider mengumumkan pemangkasan 21% tenaga kerjanya, dibarengi dengan pengumuman adopsi AI secara besar-besaran. CEO-nya, Barbara Peng, menyebut langkah itu vital untuk kelangsungan bisnis. Serikat pekerja (Insider Union) bereaksi keras, menyebut manajemen “tidak berempati” di tengah euforia AI.

Di level global, situasi ini bukan hal baru. Rata-rata tahunan PHK di industri media sudah melonjak dari 7.305 per tahun pada periode 2010–2017 menjadi 14.298 per tahun sejak 2018 — bertahun-tahun sebelum AI generatif seperti ChatGPT meledak ke permukaan publik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kita tidak perlu jauh-jauh ke Amerika untuk merasakan getarannya.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 800 pekerja media mengalami PHK sejak 2024 hingga Juli 2025. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menyebut angka yang lebih besar: lebih dari 1.000 jurnalis terkena PHK sepanjang 2025 saja. Dewan Pers bahkan mencatat, sepanjang 2023–2024, tidak kurang dari 1.200 karyawan perusahaan pers telah terimbas pemangkasan.

Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, yang dikonfirmasi Tirto.id pada Mei 2025, mengakui PHK masih terjadi di banyak media, namun datanya sulit dikumpulkan:

“Mereka baru akan melapor ke AJI bila ada sengketa. Sementara AJI baru bisa melakukan advokasi sengketa ketenagakerjaan bila ada laporan.”

Kondisi ini bukan semata-mata soal AI. Ada masalah struktural yang lebih dalam: sekitar 75 persen iklan nasional perusahaan pers telah diambil alih oleh platform digital global dan media sosial. Data We Are Social per Februari 2025 bahkan mempertegas bahwa Google dan Facebook bersama-sama menguasai 72,9% belanja iklan digital nasional Indonesia. Nilai ekonomi sebuah berita kini bukan lagi soal kedalaman liputannya, melainkan soal seberapa sering ia diklik dan dibagikan.

Jadi, AI yang Salah?

Di sinilah narasi yang berkembang di publik perlu dikoreksi.

AI bukanlah satu-satunya penyebab krisis ini — dan menyempitkan masalah hanya pada AI justru berbahaya karena mengaburkan akar masalah yang lebih sistemik. Namun AI juga bukan sama sekali tidak bersalah. AI berperan sebagai akselerator: ia memperparah krisis yang sudah ada, dan membuka lubang-lubang baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Mekanisme paling nyata bukan soal “robot menggantikan jurnalis”, melainkan soal bagaimana AI memotong aliran pendapatan media. Fitur AI Overviews milik Google, misalnya, merangkum jawaban langsung dari artikel-artikel berita — sehingga pengguna tidak perlu lagi mengklik tautan ke situs aslinya. Akibatnya, trafik organik ke situs-situs berita anjlok.

Data dari Chartbeat menunjukkan bahwa lalu lintas Google dari pencarian organik ke lebih dari 2.500 situs turun 33% secara global antara November 2024 dan November 2025, bahkan 38% di Amerika Serikat. AI bukan menggantikan jurnalis satu per satu, tapi AI memangkas sumber pendapatan yang selama ini menopang industri media secara keseluruhan.

Wakil Ketua AMSI, Suwarjono, menyebutnya dengan tepat dalam laporan Tirto.id: penggunaan AI dalam kerja-kerja industri media adalah disrupsi ketiga yang tak kalah dahsyat — setelah gelombang internet dan gelombang media sosial.

Fakta yang Sering Dilupakan

Di tengah keramaian narasi “AI membunuh jurnalisme”, ada beberapa data yang perlu menjadi penyeimbang.

Pos terkait