Kebangkitan Spiritual Diprediksi Berawal dari Indonesia pada 2028-2029

Istilah Yavan atau Yavana berasal dari nama cucu Nabi Nuh as. yang bernama Javan bin Japhet—yang kemudian menjadi penduduk awal atau ras asli Pulau Jawa—yang dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai Yava-Dvipam atau Yawa Dwipa.

Ramalan tentang Negeri di Timur yang menjadi titik awal kebangkitan spiritual juga disebutkan dalam kitab yg ditulis Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rahmad, putra Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak (1520-1585 M). Menurut Kyai Haji Abdul Ghafur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajad, sekitar tahun 900-an Masehi para wali Allah—yang disebut dengan Wali Abdal, berjumlah 40 orang—berkumpul di Baghdad untuk mengadakan rapat pleno guna mengkaji salah satu hadits Rasulullah Saw. yang menubuwatkan jika kebangkitan dan kejayaan spiritual akan bangkit dari Timur. Mereka sempat bingung: sebelah timur mana yang dimaksud? Sebab, Rasulullah juga tidak menjelaskan dalam hadits tersebut.

Setelah bermusyawarah, akhirnya para Wali Abdal ini memutuskan untuk mencari negeri yang berada di timur. Tetapi, para Wali Abdal ini masih bingung mengenai lokasi negeri yang dimaksud. Namun, salah satu Wali Abdal berucap bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda jika ciri penduduk negeri itu ada dua, yakni, pertama, memiliki ciri-ciri fisik yang berada “di tengah-tengah”; dan yang kedua, penduduknya memiliki tingkah laku yang baik.

Bacaan Lainnya

Akhirnya para wali melakukan kajian secara geografis, sosiologis, dan antropologis. Dicarilah suatu daerah yang secara geografis strategis dan subur; secara sosiologis memiliki peradaban, akhlak, dan kebudayaan yang baik; serta secara antropologis berperawakan sedang, tidak pendek, dan juga tidak terlalu tinggi, kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, rambutnya tidak keriting dan juga tidak terlalu kaku, matanya tidak sipit dan juga tidak terlalu lebar. Berdasarkan parameter tersebut, maka dipilihlah Negeri Nusantara sebagai negeri di timur yang perlu digarap para Wali Abdal guna menyongsong kebangkitan spiritual dari Timur.

Kiai Haji As’ad Syamsul Arifin pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya pada tahun 1980-an: “Dalam rapat para ulama di Kawatan, Surabaya, sekitar tahun 1925 Masehi, ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya. Ulama tersebut mengatakan bahwa ia menemukan satu teks sejarah yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Ampel yang menyatakan demikian: ‘Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji pada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah Saw. seraya berkata pada saya (Sunan Ampel): Islam ahlussunnah wal jamaah ini bawalah hijrah ke Indonesia, karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam ahlussunnah wal jamaah. Bawalah ia ke Indonesia’.”

Benarkah demikian? Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Namun, untuk semua hal baik, ada baiknya kita aminkan saja.

(SF | Wijdan—bersambung)

Pos terkait