Jika dibandingkan dengan ketika gelombang Omicron pertama kali menerjang Indonesia, jumlah kasus saat ini memang terpaut jauh lebih kecil.
Merujuk pada data Kemenkes, saat ini total kasus Covid aktif di Indonesia pekan ini mencapai 149. Dari keseluruhan angka tersebut, hanya 20 persen di antaranya yang merupakan subvarian EG.2 dan EG.5, sisanya didominasi varian XBB 2.
Namun, jika melihat tren jumlah kasus Covid sepanjang tahun ini, infeksi dari akhir Oktober hingga November memang meningkat. Meski demikian, Masdalina mengingatkan bahwa pembatasan tak pernah menjadi solusi dalam pengendalian wabah.
Ia menganggap pemerintah seharusnya lebih berfokus pada penyediaan infrastruktur dan sarana agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan, mulai dari vaksinasi hingga rawat inap.
“Ada sebagian kecil dari masyarakat yang akan terinfeksi mengalami kondisi berat. Karena itu, menyiapkan kapasitas tempat tidur yang cukup itu merupakan tanggung jawab pemerintah,” katanya.
“Infrastruktur lain, seperti oksigen, obat-obatan, itu sebaiknya tidak hilang, tetap seperti ketika [varian] Delta menyerang kita.”
Tak hanya pemerintah, masyarakat juga memikul tanggung jawab sendiri untuk mencegah penularan dan peningkatan kasus Covid.
Masdalina mengatakan, salah satu cara terampuh adalah dengan melindungi kelompok dengan risiko tinggi, yaitu manula, orang dengan komorbid, juga bayi dan anak-anak.
“Caranya bagaimana? Tentu kita masih mengingat bagaimana kita mengendalikan Covid 2-3 tahun lalu. Protokol kesehatan masih relevan dan cukup signifikan untuk membantu,” tutur Masdalina.
Ia juga mengimbau agar warga menghindari kerumunan dan berupaya menjaga jarak, terutama menjelang musim libur Natal dan Tahun Baru.
“Biasanya banyak pesta di Tahun Baru, tapi mohon untuk sementara waktu, berpesta mungkin bisa, tapi kembali ke protokol kesehatan sambil berpesta sambil pakai masker tidak akan mengurangi makna pesta itu sendiri,” katanya.





