Jepang mengheningkan cipta pada Rabu, 6 Agustus 2025, pukul 08.15 pagi waktu setempat. Waktu tersebut persis saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima 80 tahun lalu. Ledakan dan radiasi dari bom menghancurkan kota, menewaskan sekitar 140 ribu orang hingga akhir 1945.
_________________
Pemerintah Kota Hiroshima menggelar upacara peringatan di Taman Perdamaian. Sekitar 55.000 orang menghadiri acara tersebut, termasuk perwakilan dari 120 negara dan kawasan.
Wali Kota Hiroshima, Matsui Kazumi, memasang daftar terbaru korban tewas di tugu peringatan taman itu. Hingga tahun ini, tercatat 349.246 nama korban. Termasuk 4.940 nama yang meninggal atau baru dikonfirmasi dalam 12 bulan terakhir.
Dalam deklarasi perdamaian, Matsui mengenang Tsuboi Sunao, seorang penyintas bom atom yang semasa hidupnya vokal menyuarakan penghapusan senjata nuklir. Tsuboi wafat empat tahun lalu.
Matsui menyerukan agar para pemimpin dunia datang langsung ke Hiroshima. “Mereka perlu menyaksikan dampak nyata dari bom atom dan mendengar seruan tulus para hibakusha,” ujar Matsui dikutip dari NHK.
Perdana Menteri Jepang, Ishiba Shigeru, juga menyampaikan pidato. Ia menegaskan komitmen pemerintah Jepang untuk menciptakan dunia bebas senjata nuklir.
Saat ini, jumlah penyintas bom atom yang masih hidup kurang dari 100.000 orang. Rata-rata usia mereka di atas 86 tahun. Seiring waktu, cerita mereka semakin langka didengar secara langsung.
Di tengah peringatan tersebut, NHK mengumumkan penemuan penting dari masa lalu. Lembaga penyiaran itu menemukan rekaman film hitam-putih berdurasi 41 detik yang merekam Kuil Fukusaiji di Nagasaki. Aktor kabuki, Nakamura Shikaku, merekamnya sekitar tahun 1930, lalu menyumbangkannya ke NHK.
Kuil Fukusaiji dibangun pada 1628 dan ditetapkan sebagai harta nasional pada 1927. Lokasinya hanya 2,6 kilometer dari pusat ledakan bom atom di Nagasaki. Bom tersebut menghancurkan kuil akibat kebakaran hebat.
Rekaman itu memperlihatkan bagian luar kuil dan lentera batu yang menyala sepanjang malam. Lentera tersebut selamat dari ledakan dan masih berdiri di halaman kuil hingga kini.
Profesor Emeritus Universitas Nagasaki, Himeno Junichi, menyebut temuan itu sangat bernilai. “Selama ini kita hanya punya foto dan kartu pos. Ini pertama kalinya kita melihat bentuk kuil secara tiga dimensi lewat gambar bergerak,” ujarnya. “Rekaman ini merupakan sumber sejarah visual yang sangat berharga,” imbuhnya.***





