Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai penolakan setelah meminta sekutunya, Jepang dan Australia, untuk mengirim kapal perang mengamankan Selat Hormuz. Kedua negara menyatakan belum berencana mengerahkan armada mereka di tengah ketegangan yang memicu lonjakan harga minyak global.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Senin (16/3/2026), menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki rencana pengiriman kapal perang ke selat strategis tersebut. Menurutnya, langkah itu berpotensi bertentangan dengan konstitusi Jepang yang melarang keterlibatan dalam konflik bersenjata.
“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus mempelajari apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan sesuai kerangka hukum,” ujar Takaichi, seperti dikutip dari pernyataan resminya.
Padahal, Jepang diketahui sangat bergantung pada jalur energi ini. Sebanyak 95 persen pasokan minyak mentah Negeri Sakura berasal dari Timur Tengah dan harus melewati Selat Hormuz.
Australia: Tak Ada Permintaan Resmi dari AS
Sikap serupa ditunjukkan Australia. Anggota kabinet Perdana Menteri Australia, Catherine King, menyatakan bahwa tidak ada permintaan resmi maupun rencana kontribusi dari Canberra untuk mengirimkan kapal perang ke kawasan tersebut.
“Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tapi itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau kontribusi dari kami,” kata King.
Pernyataan ini merespons seruan Trump sebelumnya agar negara-negara pengimpor minyak dari Teluk, termasuk China, Prancis, Korea Selatan, dan Inggris, turut bertanggung jawab mengamankan jalur pelayaran mereka sendiri. “Itu adalah tempat di mana mereka mendapatkan energi,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.
AS Dianggap “Kecele” di Tengah Krisis
Penolakan dari dua sekutu dekat ini disebut media sebagai kekalahan diplomatik bagi Trump yang mendesak pembentukan koalisi laut. Sebelumnya, Trump mengaku telah meminta sekitar tujuh negara untuk bergabung, namun hingga kini belum ada komitmen nyata. Ia sempat mengancam akan “mengingat” negara-negara yang menolak membantu.
Situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah Iran mengancam akan menutup jalur tersebut bagi kapal-kapal AS dan Israel sebagai buntut dari serangan bersama Washington dan Tel Aviv ke Iran. Ancaman itu telah mendorong harga minyak mentah global melonjak drastis, tembus di atas 100 dolar AS per barel.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya telah didekati sejumlah negara yang meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan militer Iran. Araghchi mengaku telah mengizinkan beberapa kapal melintas, tanpa merinci lebih lanjut.***





