Trump Ajak Negara-negara Pembeli Minyak Kirim Kapal Perang untuk Buka Blokade Selat Hormuz

Foto dokumentasi yang dirilis Angkatan Laut Kerajaan Thailand menunjukkan asap membubung dari kapal curah Thailand, Mayuree Naree, di dekat Selat Hormuz setelah sebuah serangan, 11 Maret 2026. — AFP via Al Jazeera
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut untuk membuka Selat Hormuz yang diblokade Iran.

Dalam unggahan di Truth Social — yang dikutip Al Jazeera pada Sabtu (14/3/2026) —Trump menyatakan bahwa banyak negara akan mengirim kapal perang untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman. 

Ia menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai negara-negara yang diharapkan berkontribusi, terutama mereka yang terdampak oleh upaya penutupan selat oleh Iran.

Trump mengklaim AS telah “menghancurkan 100 persen kemampuan militer Iran,” namun mengakui Teheran masih dapat “mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak pendek” di sepanjang jalur air tersebut.

Bacaan Lainnya

Ia berjanji bahwa AS akan “membombardir garis pantai dan terus-menerus menembak jatuh perahu dan kapal Iran,” serta bertekad membuat selat itu “TERBUKA, AMAN, dan BEBAS.”

Respons Iran: Selat Hanya Ditutup untuk Musuh

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Laksamana Alireza Tangsiri, merespons pernyataan Trump melalui platform X — sebagaimana dikutip oleh Hindustan Times. “Selat Hormuz belum ditutup secara militer dan hanya berada di bawah kendali,” tulisnya.

Ia juga mengecam klaim Amerika: “Orang Amerika secara salah mengklaim penghancuran angkatan laut Iran. Kemudian mereka secara salah mengklaim mengawal kapal tanker. Sekarang mereka bahkan meminta negara lain untuk pasukan cadangan.”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengklarifikasi bahwa selat hanya ditutup untuk “kapal tanker dan kapal musuh serta sekutu mereka,” tidak untuk semua pelayaran. Mohsen Rezaee, anggota Dewan Penentu Kebijakan, menegaskan, “Tidak ada kapal Amerika yang berhak memasuki Teluk.”

Pengecualian untuk India dan Turki

Dua kapal tanker India yang membawa gas minyak bumi cair berhasil melintasi selat dengan aman pada Sabtu pagi. Iran memberikan pengecualian langka setelah negosiasi langsung antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. 

Kapal milik Turki juga diizinkan melintas lebih awal, sementara 14 kapal Turki lainnya masih menunggu izin.

Keraguan Pakar: Tidak Ada Rencana Jelas

Andreas Krieg, pakar keamanan Timur Tengah dari King’s College London, menilai seruan Trump untuk koalisi tampaknya menutupi ketiadaan rencana komprehensif. 

“Sepertinya mereka tidak memiliki rencana untuk Selat Hormuz yang ditutup, dan ini tampak seperti langkah putus asa dalam kampanye informasi untuk menenangkan pasar,” ujarnya.

Krieg menegaskan tidak ada solusi militer cepat untuk membuka kembali selat. Iran hanya perlu menyerang sesekali untuk membuat perusahaan asuransi menjauh. 

Mengirim kapal angkatan laut tanpa kesepakatan diplomatik hanya akan mengekspos “kapal militer yang sangat, sangat mahal terhadap proyektil yang sangat murah namun berpotensi sangat efektif.”

Dampak Global Blokade

Penutupan selat yang membawa seperlima minyak dan gas alam cair global ini mengancam ketahanan pangan dunia. Selat ini merupakan jalur penting ekspor LNG yang menjadi bahan baku pupuk untuk lebih dari 40 persen asupan kalori global. 

India telah menggunakan kekuasaan darurat untuk melindungi 333 juta rumah tangga yang bergantung pada LPG. 

Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher memperingatkan “jutaan orang berisiko” jika kargo kemanusiaan tidak dapat melewati selat dengan aman.***

Pos terkait