JAKARTA—Perdana Menteri (PM) Israel dikabarkan bakal melakukan pertemuan dengan para pejabat tinggi negara untuk mempersiapkan kemungkinan serangan dari Iran, yang isunya akan terjadi waktu dekat ini. Ketegangan antara Israel dan Iran kian memanas pasca-serangan udara Israel yang menghancurkan konsulat Iran di Suriah yang menewaskan dua komandan senior Korps Garda Revolusi Iran, hampir dua pekan lalu.
Iran dilaporkan secara terbuka mengancam akan membalas serangan tersebut. Menurut laporan Wall Street Journal, beberapa sumber yang mengatakan serangan Iran bisa terjadi “di dalam perbatasan Israel”.
Sementara itu, CBS News—mitra BBC di AS—melaporkan bahwa juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), John Kirby menyebut “serangan besar yang menantang” oleh Iran terhadap Israel bisa terjadi dalam waktu dekat—kemungkinan antara 24 hingga 48 jam ke depan. Israel sendiri juga dilaporkan telah menyatakan siap “secara defensif dan ofensif”.
Kirby, yang berbicara dengan CBS, memperingatkan bahwa Iran dapat menggunakan lebih dari 100 pesawat tak berawak, puluhan rudal jelajah, dan kemungkinan rudal balistik.
Semua kekuatan tempur tersebut, menurut Kirby, bakal diarahkan ke target-target militer di Israel. Pejabat tersebut menambahkan bahwa masih ada kemungkinan Iran dapat menahan diri.
“Saya tidak dapat berbicara mengenai ukuran, skala, ruang lingkup dari serangan itu,” kata John Kirby, dikutip Sabtu (13/4/2024). Yang jelas, kata Kirby, ancaman Iran “kredibel” dan pihak Washington sudah mengawasinya semaksimal mungkin.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan tengah menyiapkan skenario jika Iran melakukan serangan balas dendam. Netanyahu diperkirakan akan bertemu dengan anggota kabinet perangnya, termasuk Menteri Pertahanan Yoav Gallant dan tokoh oposisi Benny Gantz.





