Iran mengangkat slogan protes anti-Trump “No Kings” ke rudal, saat jutaan warga turun ke jalan di AS dan perang kawasan makin memanas.
Akun X True Promise (@IRTruePromise) mengunggah foto rudal bertuliskan “No Kings” dan mengaitkannya dengan gelombang demonstrasi anti-pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
Jejak unggahan itu muncul dalam hasil pencarian X pada 31 Maret 2026. Namun, afiliasi resmi akun tersebut dengan negara Iran atau Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) belum dapat diverifikasi secara independen.
Unggahan itu menyebut rudal tersebut disiapkan sebagai “penghormatan” bagi warga dari puluhan negara yang mendukung “No Kings March”. Pesannya jelas: Iran berupaya mengubah slogan jalanan di Amerika menjadi simbol perlawanan geopolitik.
Thank you people of America , Australia Austria Canada Costa Rica Ecuador France Germany Greece Iceland Ireland Italy Japan Kenya Mexico Netherlands Portugal Saint Lucia Spain Sweden Switzerland Thailand United Kingdom for the historic “NO KINGS MARCH”! ✊🏻
This missile has been… pic.twitter.com/fzAUhmDCHQ— True Promise – الوعد الصادق ✪🇮🇷 (@IRTruePromise) March 31, 2026
Momentum itu muncul saat aksi “No Kings” meledak di seluruh AS pada Sabtu, 28 Maret 2026. Reuters melaporkan lebih dari 3.200 aksi digelar di 50 negara bagian, dengan isu utama meliputi perang Iran, kebijakan imigrasi, dan tudingan otoritarianisme terhadap Trump.
The Guardian, mengutip penyelenggara, menyebut lebih dari 8 juta orang ikut dalam lebih dari 3.300 aksi di AS dan lebih dari selusin negara. Jika angka itu akurat, ini menjadi salah satu mobilisasi protes terbesar dalam sejarah modern Amerika.
Protes Jalanan Masuk ke Narasi Perang
Reuters mencatat demonstrasi besar berlangsung di New York, Washington, Dallas, dan Minnesota. Dua pertiga aksi justru terjadi di luar kota-kota besar, menandakan kemarahan terhadap Trump meluas hingga komunitas kecil.
Di saat yang sama, Press TV melaporkan IRGC melancarkan gelombang ke-88 Operasi True Promise 4 pada Selasa, 31 Maret 2026. Menurut media pemerintah Iran itu, serangan menyasar target-target AS dan Israel, termasuk kapal kontainer Israel di Teluk Persia dan posisi Marinir AS di pesisir Uni Emirat Arab. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.





