Dominasi Sektor Informal
Situasi diperparah dengan membengkaknya sektor informal. Data BPS per Februari 2025 mencatat dari 145,77 juta penduduk bekerja, 86,58 juta di antaranya (59,4 persen) adalah pekerja informal—tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Artinya, lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia tak memiliki perlindungan kerja formal. Banyak yang bekerja tanpa kontrak, tanpa jaminan sosial, bahkan tanpa kepastian upah.
“Ini bukti struktur ekonomi kita belum sehat,” tegas Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Bambang Setiaji.
Ia menilai dominasi segelintir konglomerasi dalam struktur ekonomi Indonesia telah menyulitkan pelaku baru masuk dan berkembang.
“Monopoli dan oligopoli harus dibongkar. Pemerintah perlu beri insentif bagi industri padat karya, permudah perizinan, tekan biaya modal dan logistik,” kata Bambang dikutip dari laman UMS.
Pertanian dan Manufaktur Jadi Tumpuan
Untuk menahan laju pengangguran, Bambang menilai sektor padat karya seperti pertanian, manufaktur, tekstil, dan pangan harus menjadi prioritas.
“Industri pangan itu tidak akan pernah kehilangan permintaan. Selain menyerap tenaga kerja, juga menjaga ketahanan nasional,” jelasnya.
Namun di saat bersamaan, Indonesia juga harus mulai membangun industri bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan teknologi.
“Negara ini tidak akan maju kalau tidak punya industri unggulan. Jangan cuma jadi pasar,” pungkas Bambang.
Optimisme di Tengah Tekanan
Plt. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi, Nur Hidayah Setyowati, mengaku puas meski masih banyak catatan. “Alhamdulillah tertib. Kami belajar dari pengalaman job fair di Kota Bekasi dan Kementerian Ketenagakerjaan,” ujarnya.
Dengan area seluas lebih dari 2.000 motor di area parkir dan koordinasi lintas instansi—Polres, Dishub, Satpol PP, hingga Dinkes—job fair bisa berlangsung relatif kondusif meski dihujani pencari kerja.
Langkah lanjutan pun disiapkan. Bagi pelamar yang gagal lolos seleksi, Dinas Tenaga Kerja akan memasukkan data mereka dalam database agar bisa diprioritaskan dalam job matching ke depan.
Wakil Bupati Asep Surya Atmaja juga menegaskan program door to door recruitment ke perusahaan akan terus dilanjutkan.
“Kami ingin warga Bekasi punya peluang lebih besar. Ini bukan akhir. Kita baru mulai,” ucapnya seperti dilansir laman bekasikab.go.id***