Dua pendekatan berbeda dalam mendidik anak-anak bermasalah kini menjadi sorotan. Di Depok, Jawa Barat, Pemkot menggandeng barak militer untuk program Pendidikan Karakter seperti yang dilakukan Gubernur Dedi Mulyadi. Sementara di Surabaya, pendekatan humanis justru mendapat apresiasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
____________________
Di Depok, 100 anak usia 13–15 tahun akan mengikuti program pendidikan karakter di Divisi 1 Kostrad Cilodong selama sepuluh hari, mulai 1 hingga 10 Juni 2025. Dana sebesar Rp120 juta digelontorkan dari anggaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Depok.
“Iya, sekitar Rp120-an juta dari kegiatan Kesbangpol,” ujar Kepala Bakesbangpol Lienda Ratnanurdianny, Rabu, 28 Mei 2025. Ia tidak merinci pos penggunaan anggaran, hanya menyebut banyak item dalam kegiatan tersebut.
Anak-anak akan digembleng dalam tiga materi utama: kedisiplinan, wawasan kebangsaan, dan pembelajaran akademik. “Kami gabungkan semua agar mereka terbiasa dengan rutinitas yang positif,” ujar Aster Divisi 1 Kostrad, Kolonel Inf Wira Muharromah kepada laman Merdeka, dikutip Jumat, 30 Mei 2025.
Selama program berlangsung, siswa dilarang menggunakan ponsel dan dibatasi ketat dalam aktivitas nonakademik. “Fokusnya belajar, istirahat, dan ibadah. Tidak ada kegiatan yang tidak berguna seperti main game,” tegasnya.
Sementara itu, pendekatan berbeda diterapkan Pemkot Surabaya melalui program Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS). Program ini menuai pujian langsung dari Ketua KPAI Ai Maryati Solihah saat mengunjungi lokasi RIAS di Kalijudan Indah XV, Selasa, 27 Mei 2025.
“RIAS bisa jadi role model nasional. Ini rumah yang benar-benar menjadi tempat tumbuh anak-anak dengan pendekatan yang menyentuh akar masalah,” kata Ai Maryati.
Menurutnya, pendekatan humanis RIAS terbukti menyentuh sisi psikologis anak. Program ini tidak hanya menanamkan disiplin, tapi juga memberikan ruang ramah anak dan melibatkan masyarakat serta dunia usaha dalam bentuk program orang tua asuh.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, program ini lahir dari refleksi langsungnya saat menangani anak-anak bermasalah sejak 2022. Ia menemukan bahwa 99 persen kasus anak bermasalah berakar dari kondisi keluarga yang tidak harmonis.
“Dari situ kami bentuk RIAS pada 2023. Konsepnya sederhana tapi kuat: Satu Keluarga, Satu Sarjana. Kami fasilitasi kebutuhan sekolah dan kehidupan anak-anak yang tidak mampu melalui APBD,” kata Cak Eri dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 30 Mei 2025.
Bukan sekadar sekolah, anak-anak di RIAS mendapat pendidikan karakter, pembinaan keterampilan hidup, hingga penguatan akhlak. “Semua sudah disepakati bersama orang tua. Tujuannya jelas: menciptakan anak-anak yang berakhlak baik,” tegasnya.
Cak Eri bahkan ikut terlibat langsung dalam pendidikan orang tua melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), khususnya dalam menekankan peran ayah. “Anak yang mendapat kasih sayang ayah tidak akan mudah terjerumus,” tandasnya.
KPAI dan Pemkot Surabaya berkomitmen melanjutkan kolaborasi untuk mengembangkan sistem pendidikan terintegrasi berbasis kasih sayang dan pendekatan kemanusiaan.***



