Tapi hampir semuanya dari bahan mentah: gaharu, cendana, kayu putih, dan akar wangi.
Hilirisasi? Masih jauh.
Menurut laporan Kementerian Pertanian, Indonesia bahkan mengimpor kembali produk olahan untuk kebutuhan parfum dan kosmetik.
Artinya, kita menjual murah, lalu membeli mahal.
Di tengah semangat hilirisasi nasional, industri parfum lokal seperti kehilangan arah: punya bahan, tapi tak punya brand.
Konservasi Gaharu: Jangan Sampai Harum yang Terakhir
Masalah berikutnya: kelestarian.
Hanya sekitar 7 persen pohon gaharu yang bisa menghasilkan resin secara alami. Sisanya perlu teknik khusus bernama inokulasi.
Tanpa pengelolaan bijak, eksploitasi gaharu bisa menjadi bumerang.
Pohon Aquilaria malaccensis bahkan sudah masuk dalam daftar CITES Appendix II dan terancam punah menurut IUCN Red List.
Untungnya, beberapa lembaga riset mulai bergerak.
Politeknik Negeri Lhokseumawe, misalnya, berhasil mengembangkan sistem distilasi minyak gaharu berbasis tenaga surya. Tapi, seperti banyak inovasi lainnya, hasil riset itu belum masuk industri.
Harumnya Harus Pulang ke Rumah
Indonesia tidak kekurangan pohon gaharu. Yang kurang adalah kehendak kolektif untuk menjadikannya kebanggaan nasional.
Sudah saatnya kita berhenti puas menjadi penghasil bahan mentah dan mulai membangun industri parfum lokal yang kuat, eksklusif, dan bernilai tambah tinggi.
Bayangkan jika parfum bernama “Harum Nusantara” atau “Oud Indonesia” bersanding di etalase butik Paris dan Riyadh.
Bayangkan jika kita mengekspor bukan lagi kayu, tapi cerita.
Bukan lagi resin mentah, tapi makna dan warisan aromatik dari rimba kita.
Sudah waktunya harum gaharu pulang ke rumah.
Dikenakan dengan bangga. Disuling dengan bijak. Dijaga agar tetap lestari.***





