Indonesia punya “emas cair” seharga Rp1 miliar per liter dari hutan sendiri—tapi kita hanya menjualnya mentah, lalu membeli kembali dalam bentuk parfum mahal buatan luar negeri.
__________
Bayangkan ada kekayaan alam yang aromanya dicari rumah-rumah mode Paris, dipuja pengusaha minyak di Dubai, dan dijadikan simbol kemewahan di istana-istana Timur Tengah.
Dan bayangkan lagi, kekayaan itu… tumbuh liar di hutan-hutan kita sendiri.
Namanya gaharu—resin harum dari pohon Aquilaria atau Gyrinops—yang oleh dunia internasional disebut sebagai oud.
Di pasar global, minyak oud tua bisa dijual hingga USD80.000 per liter—setara lebih dari Rp1 miliar! Tapi mirisnya, Indonesia yang menjadi salah satu rumah asli gaharu… hanya jadi pengepul bahan mentah.
Kita punya harta karun aromatik. Tapi kita tak pernah betul-betul memilikinya.
Gaharu: Aroma dari Luka, Harum dari Luka Bangsa
Saat pohon gaharu terluka, ia membentuk resin untuk melindungi dirinya. Dari luka itu muncul aroma pekat, dalam, eksotis—yang membuat dunia parfum mewah tergila-gila.
Di Arab Saudi dan UEA, oud adalah budaya. Di Prancis, ia jadi basis parfum couture. Tapi di Indonesia—tempat asal pohonnya sendiri—masih banyak yang belum tahu seperti apa bentuknya, apalagi mencium harumnya.
Menurut data BRIN, pohon gaharu tumbuh alami di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Tapi potensi besar ini belum diolah menjadi kekuatan ekonomi.
Dunia Minta, Kita Gagal Memenuhi
Dalam setahun terakhir, menurut data platform ekspor-impor Volza, Indonesia hanya mengirim 11 kali pengapalan minyak gaharu ke luar negeri. Padahal, permintaan terus melonjak.
Pasar oud global saat ini bernilai lebih dari 323 juta dolar AS, dan diperkirakan akan menyentuh 522 juta dolar pada 2032.
Sayangnya, alih-alih menjadi pemain utama, Indonesia justru terjebak sebagai eksportir bahan mentah. Serpihan kayu dan resin kita dibeli murah, diolah di luar negeri, lalu dijual kembali ke kita dalam bentuk parfum berharga jutaan.
Kita kirim kayunya ke Dubai, lalu beli balik parfumnya di butik Jakarta. Ironis.
Minyak Mewah, Industri Mentah
Pemerintah mencatat nilai ekspor minyak atsiri dari Indonesia mencapai USD172,9 juta pada 2022.
Tapi hampir semuanya dari bahan mentah: gaharu, cendana, kayu putih, dan akar wangi.
Hilirisasi? Masih jauh.
Menurut laporan Kementerian Pertanian, Indonesia bahkan mengimpor kembali produk olahan untuk kebutuhan parfum dan kosmetik.
Artinya, kita menjual murah, lalu membeli mahal.
Di tengah semangat hilirisasi nasional, industri parfum lokal seperti kehilangan arah: punya bahan, tapi tak punya brand.
Konservasi Gaharu: Jangan Sampai Harum yang Terakhir
Masalah berikutnya: kelestarian.
Hanya sekitar 7 persen pohon gaharu yang bisa menghasilkan resin secara alami. Sisanya perlu teknik khusus bernama inokulasi.
Tanpa pengelolaan bijak, eksploitasi gaharu bisa menjadi bumerang.
Pohon Aquilaria malaccensis bahkan sudah masuk dalam daftar CITES Appendix II dan terancam punah menurut IUCN Red List.
Untungnya, beberapa lembaga riset mulai bergerak.
Politeknik Negeri Lhokseumawe, misalnya, berhasil mengembangkan sistem distilasi minyak gaharu berbasis tenaga surya. Tapi, seperti banyak inovasi lainnya, hasil riset itu belum masuk industri.
Harumnya Harus Pulang ke Rumah
Indonesia tidak kekurangan pohon gaharu. Yang kurang adalah kehendak kolektif untuk menjadikannya kebanggaan nasional.
Sudah saatnya kita berhenti puas menjadi penghasil bahan mentah dan mulai membangun industri parfum lokal yang kuat, eksklusif, dan bernilai tambah tinggi.
Bayangkan jika parfum bernama “Harum Nusantara” atau “Oud Indonesia” bersanding di etalase butik Paris dan Riyadh.
Bayangkan jika kita mengekspor bukan lagi kayu, tapi cerita.
Bukan lagi resin mentah, tapi makna dan warisan aromatik dari rimba kita.
Sudah waktunya harum gaharu pulang ke rumah.
Dikenakan dengan bangga. Disuling dengan bijak. Dijaga agar tetap lestari.***





