Imlek bukan hanya barongsai dan angpao. Di balik lampion merah, tersimpan makna pergantian musim, simbol pembaruan hidup, dan filosofi Kuda Api 2026 yang sarat energi dan akselerasi.
Secara harfiah, Imlek menandai berakhirnya musim dingin menuju awal musim semi.
Bagi masyarakat awam, Imlek identik dengan keramaian barongsai, lampion merah, dan bagi-bagi angpao. Namun, jika kita menilik lebih dalam, Imlek sejatinya adalah sebuah titik balik.
“Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah simfoni pergantian musim yang membawa pesan mendalam tentang pembaruan hidup,” ujar Dr. Olivia, S.E., M.A., dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra, Selasa (17/2/2026).
Olivia mengungkapkan, secara harfiah, Imlek menandai berakhirnya musim dingin menuju awal musim semi. Sama halnya dengan perayaan Idulfitri bagi umat Muslim atau perayaan Tahun Baru Internasional, Imlek adalah momen transisi orang Tionghoa, momen untuk menutup lembaran lama dan memulai siklus yang baru.
“Imlek dapat menjadi milik siapa saja yang memiliki akar tradisi Tionghoa, tanpa memandang keyakinannya. Sebab ini merupakan momen keluarga besar untuk berkumpul bersama, menyambut pergantian musim. Misalnya, tradisi bersih-bersih rumah sebelum hari-H, bukan sekadar urusan sanitasi,” terangnya.
Ritual Bersih-Bersih dan Simbol Harapan
Ada makna simbolis di balik tradisi tersebut, yakni membuang segala keburukan dan kesialan tahun lalu agar rumah siap menerima tamu dan keberuntungan baru. Begitu hari-H tiba (Imlek), sapu harus diletakkan. Kita berhenti bekerja, berhenti bersih-bersih, dan fokus sepenuhnya untuk merayakan kebersamaan.
“Simbolisme dalam sepiring harapan tersaji di meja makan, yaitu kue keranjang atau dalam bahasa Mandarinnya Nián Gāo. Kata Gāo senada dengan gāo yang berarti tinggi, melambangkan harapan agar setiap langkah hidup kita di tahun yang baru membawa kita ke derajat yang lebih tinggi, baik dalam hal rezeki maupun kualitas hidup. Begitu pula dengan kehadiran ikan yang wajib ada di meja makan,” terangnya.





