Masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta melaksanakan tradisi Padusan hari ini, Selasa (17/2/2026). Ritual penyucian diri di berbagai mata air alami ini menjadi simbol persiapan batin menyambut Ramadan 1447 H.
Masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta melaksanakan tradisi tahunan Padusan pada hari ini, Selasa (17/2/2026). Ritual mandi besar ini dilakukan di berbagai mata air alami (umbul) sebagai bentuk persiapan fisik dan batin menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, bertepatan dengan pelaksanaan Sidang Isbat oleh Kementerian Agama.
Padusan, yang berasal dari kata Jawa adus (mandi), secara filosofis dimaknai sebagai upaya menyucikan diri agar berada dalam kondisi “hening” atau bersih dari kotoran batin sebelum memasuki masa ibadah puasa. Tradisi ini merupakan kearifan lokal yang berfungsi sebagai pengingat psikologis bagi umat Muslim untuk menyiapkan mental yang bersih.
Jejak Sejarah dan Lokasi Ritual
Dahulu, ritual ini dilakukan secara menyendiri di mata air yang tenang guna menjaga kekhusyukan. Namun, saat ini Padusan bertransformasi menjadi aktivitas komunal di sejumlah titik historis. Beberapa lokasi utama yang menjadi pusat perhatian tahun ini meliputi:
- Umbul Pengging (Boyolali): Situs peninggalan Kasunanan Surakarta yang secara historis merupakan tempat pemandian keluarga keraton.
- Umbul Cokro (Klaten): Pusat tradisi siraman massal yang airnya disimbolkan sebagai kemurnian.
- Umbul Ponggok (Klaten): Mata air alami yang tetap mempertahankan fungsi ritualnya di tengah modernisasi sebagai objek wisata bawah air.
- Kawasan Pantai Selatan (DIY): Lokasi alternatif bagi warga Yogyakarta untuk melakukan pembersihan diri melalui pelarungan simbolis.
Konteks Sidang Isbat 2026
Pelaksanaan Padusan pada siang hingga sore hari ini dilakukan bersamaan dengan pantauan hilal di 96 titik di seluruh Indonesia. Jika Sidang Isbat menetapkan awal Ramadan jatuh pada esok hari, maka ritual Padusan ini menjadi persiapan akhir sebelum umat Islam melaksanakan salat Tarawih pertama malam nanti.





