Pemerintah, kata dia, tak bisa bekerja sendiri. Di sinilah HKTI menjadi mitra strategis. Kehadiran Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, yang disebut-sebut akan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum HKTI, diyakini akan memperkuat sinergi antara pemerintah dan organisasi petani. Kolaborasi ini dianggap krusial untuk mengawal keberhasilan program-program strategis di lapangan.
Dalam kesempatan itu, Amran juga menyampaikan capaian penting: Nilai Tukar Petani (NTP) kini menyentuh angka 121, tertinggi sepanjang sejarah. “Dulu 100, naik ke 106, sekarang 121. Dan pertumbuhan PDB sektor pertanian 10,5 persen—juga tertinggi,” ungkapnya.
Ia optimistis, dengan sinergi kuat bersama HKTI, sektor pertanian dan perkebunan akan mengalami lonjakan signifikan dalam empat hingga lima tahun ke depan. Bukan hanya dari sisi produksi, tapi juga nilai tambah dan daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Tak hanya soal program, Mentan juga melihat penyatuan organisasi HKTI dalam Munas kali ini sebagai momentum berharga. “Ini luar biasa. Kalau solid, HKTI bisa menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan visi Presiden: swasembada pangan dan hilirisasi komoditas yang serius,” tegasnya.
Munas HKTI 2025 digelar selama tiga hari, 24–26 Juni, dengan agenda utama pemilihan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional HKTI. Nama Sudaryono, yang juga menjabat Wakil Menteri Pertanian dan Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia, disebut-sebut sebagai calon terkuat.
Dengan arah kebijakan pertanian nasional yang semakin fokus dan dorongan kolaboratif antara pemerintah dan petani, harapan untuk kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani tampaknya bukan lagi angan-angan. Kini, tinggal bagaimana seluruh pihak bisa berjalan seirama.***





