Iran Umumkan Perang Berakhir, tapi Gencatan Senjata dengan Israel ‘Masih Rapuh’

Presiden Iran Masoud Pezeshkian. | Wikipedia Common
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan berakhirnya perang 12 hari dengan Israel usai tercapainya gencatan senjata. Meski menyatakan siap berunding dengan AS, Iran tetap menegaskan hak atas energi nuklir damai. Sementara Israel mengklaim berhasil mencapai semua target.

__________

Setelah 12 hari penuh ketegangan, serangan udara, dan ancaman nuklir, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan berakhirnya perang dengan Israel. 

Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh kantor berita resmi IRNA, Selasa malam, 24 Juni 2025, Pezeshkian menyampaikan kabar yang melegakan bagi rakyat Iran—sekaligus menandai fase baru yang belum tentu lebih tenang.

Bacaan Lainnya

“Hari ini, setelah perlawanan heroik bangsa kita yang hebat, yang tekadnya telah mencatat sejarah, kita menyaksikan terbentuknya gencatan senjata dan berakhirnya perang 12 hari yang dipaksakan oleh petualangan dan provokasi Israel,” ujar Pezeshkian, dalam pidatonya yang disampaikan dengan nada emosional.

Gencatan senjata itu tercapai setelah hampir dua minggu serangan intens, termasuk terhadap fasilitas nuklir Iran, yang sempat memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik berskala besar. 

Meski demikian, suasana damai belum sepenuhnya terasa. Pezeshkian sendiri menyebut gencatan ini ‘masih rapuh’, dan menegaskan bahwa Iran akan terus memperjuangkan haknya untuk menggunakan energi nuklir secara damai.

Lebih jauh, ia membuka pintu untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS)—sebuah pernyataan yang dianggap sebagai sinyal diplomatik penting pasca konflik.

Iran-Israel Saling Klaim Kemenangan

Di sisi lain, pemerintah Israel mengklaim kemenangan penuh atas apa yang mereka sebut sebagai “Operasi Rising Lion”. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumpulkan kabinet dan menyatakan bahwa Israel telah “mencapai seluruh tujuan operasi, bahkan lebih”. 

Israel menyebut telah berhasil menghilangkan ancaman eksistensial dari program nuklir dan rudal balistik Iran, seraya memperingatkan akan merespons keras setiap pelanggaran gencatan senjata.

Garda Revolusi Iran pun tidak tinggal diam. Dalam pernyataannya, pasukan elit republik Islam itu menyebut Israel telah “dipaksa mundur secara sepihak”, dan memuji hujan rudal yang diluncurkan menjelang akhir konflik sebagai “pelajaran bersejarah dan tak terlupakan bagi musuh Zionis”.

Meski pertempuran berhenti, narasi kemenangan masih digaungkan dari kedua kubu. Dan di antara retorika serta gencatan senjata yang rapuh ini, dunia menunggu: apakah ini benar-benar akhir dari konflik, atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya dimulai?***

Pos terkait