Ketahanan Pangan dan Tantangan Global
Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, Sonya Mamoriska, menekankan pentingnya ketahanan pangan dalam menghadapi tantangan global.
Menurut Sonya, IIRC 2024 bertujuan membahas isu perubahan iklim, gangguan ekonomi, dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini berdampak pada produksi dan distribusi beras.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal kelangsungan hidup. Tetapi juga kemampuan berinovasi dan mempertahankan produksi di tengah tantangan global,” ujar Sonya pada kesempatan yang sama.
Sonya menjelaskan, forum ini diharapkan dapat memfasilitasi diskusi tentang cara mengatasi ketidakstabilan sistem pangan lokal akibat perubahan iklim.
Sonya mengingatkan bahwa metode pertanian dan distribusi tradisional mungkin tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.
“Perubahan metode dan teknologi diperlukan untuk memastikan kelangsungan produksi beras dalam jangka panjang,” katanya.
Tingginya Biaya Produksi
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui tingginya harga beras domestik disebabkan oleh tingginya biaya produksi yang harus ditanggung oleh para petani.
Rachmi Widiarini, Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan, Bapanas, ,menjelaskan, bahwa kondisi ini seharusnya menguntungkan petani. Sebab, harga gabah dibeli di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
“Biaya produksi memang tinggi, tetapi petani berhak mendapatkan keuntungan. Kenaikan harga gabah seharusnya membahagiakan petani, karena Nilai Tukar Petani juga tercatat bagus,” ungkapnya setelah menghadiri IIRC 2024 di Bali.
Namun, Rachmi menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras berkualitas dengan harga yang terjangkau.
“Pemerintah harus hadir di tengah-tengah untuk menyeimbangkan harga di tingkat petani dan konsumen,” tambahnya.





