Perpustakaan Nasional Alih-Visualkan Naskah Kuno Menjadi Komik untuk Menarik Minat Pembaca Muda

Naskah kuno
Seorang pengalih media menyelesaikan pengalihwahanaan naskah kuno di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Salemba, Jakarta, Kamis, 1 Agustus 2024.ANTARA/Fauzan
Jakarta—Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengumumkan pengalih-visualan 100 judul komik berdasarkan naskah kuno Nusantara. Inisiatif ini bertujuan untuk membuat pesan dan isi naskah kuno lebih mudah dipahami dan menarik bagi pembaca muda.

Pelaksana Tugas Kepala Perpusnas, E Aminudin Aziz, mengungkapkan hal ini dalam acara Gemilang Perpustakaan 2024 di Balai Sudirman, Jakarta, pada Jumat (20/9/2024).

“Ada 100 judul komik yang telah dihasilkan, dengan harapan informasi dari naskah kuno menjadi lebih familiar bagi masyarakat,” ujar Aminudin dilansir RRI.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang merasa terbebani jika harus membaca naskah kuno secara langsung, sehingga penting untuk mengalih-visualkan karya tersebut ke dalam bentuk yang lebih modern dan komunikatif.

Bacaan Lainnya

Melalui keterlibatan penulis kreatif, komik yang dihasilkan diharapkan dapat membangkitkan minat baca di kalangan anak muda. Aminudin juga menambahkan bahwa Perpusnas berencana untuk melakukan alih media ke bentuk lain, seperti film dan animasi.

“Kami berusaha untuk membuat film pendek dan animasi, dan respon masyarakat terhadap pengemasan cerita rakyat dalam video berbahasa daerah sangat positif,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Aminudin menekankan pentingnya mengubah persepsi terhadap perpustakaan dari sekadar tempat penyimpanan bahan pustaka menjadi produsen bahan bacaan. Ia juga mencatat tantangan dalam meningkatkan literasi masyarakat, khususnya dalam hal koordinasi antara berbagai pihak.

“Seringkali, upaya peningkatan kemampuan membaca belum dilaksanakan secara bersama-sama, dan ini menjadi hambatan terbesar selama saya menjabat di Perpusnas,” jelasnya.

Sebagai informasi, penghargaan Jikji Memory of the World Prize edisi ke-10 tahun 2024 dari UNESCO diberikan kepada upaya alih-visual naskah kuno tersebut, sebagai pengakuan atas pelestarian naskah Nusantara yang konsisten selama dua dekade terakhir.

Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menekankan pentingnya manuskrip sebagai jendela untuk memahami sejarah dan budaya. “Upaya kolektif kita untuk meningkatkan pelestarian dan aksesibilitas terhadap warisan dokumenter harus terus berlanjut. Selamat kepada Perpusnas atas penghargaan ini,” ujarnya.*

Pos terkait