Peringatan seabad Asrul Sani di Perpusnas menguak jejak emas sang sastrawan, sineas legendaris, sekaligus tokoh pendiri Lesbumi NU.
Nama Asrul Sani tidak sekadar menghiasi buku pelajaran sejarah sastra. Ia bernapas dalam denyut kebudayaan Indonesia modern. Melalui pameran bertajuk “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” yang berlangsung di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 9 Juni 2026, publik kembali diajak menyelami kedalaman pikiran pria kelahiran Rao, Pasaman, 10 Juni 1925 tersebut.
Peringatan satu abad ini menjadi jembatan ingatan lintas generasi. Sekjen Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menegaskan posisi vital sang maestro.
“Asrul Sani sosok yang tidak hanya menghasilkan karya-karya tetapi juga membentuk arah perkembangan kebudayaan nasional. Sebagai penyair Angkatan ‘45, dia turut menghadirkan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan. Sebagai penulis skenario dan sutradara, karyanya menjadi tonggak penting perfilman nasional,” paparnya saat membuka pameran.
Harta Karun Sang Maestro di Perpusnas
Kiprah Asrul Sani membentang luas dari sastra hingga layar perak. Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminuddin Azis, mengungkapkan bahwa institusinya menyimpan ragam medium karya Asrul Sani sebagai warisan bangsa.
“Perpusnas memiliki karya-karya Asrul Sani. Dalam catatan saya, yang bisa kita temukan sementara ini terdeteksi ada 80 judul. Dari 80 koleksi tersebut terdapat 31 judul monograf, 16 majalah, 3 koleksi surat kabar, 3 koleksi foto, dan 27 koleksi audio,” ungkap Aminuddin.
Jejak intelektual ini nyatanya sudah terpupuk sejak belia. Tumbuh sebagai putra seorang raja bergelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, Asrul kecil sangat lekat dengan buku. Ibunya punya cara unik mendidik Asrul; ia memberikan uang jajan khusus yang pantang dibelikan permen, melainkan wajib untuk membeli buku. Kebiasaan ini membentuk karakternya saat kelak merantau ke Jakarta dan satu kelas dengan Pramoedya Ananta Toer di sekolah Taman Siswa.
Pencuri Buku dan Kelahiran Angkatan ’45

Ketajaman intelektual Asrul Sani membawanya bertemu dengan penyair eksentrik, Chairil Anwar. Pertemuan pertama mereka di Pasar Senen pada era pendudukan Jepang membuahkan persahabatan erat. Asrul mengenang Chairil muda tampak lusuh, namun memiliki sorot mata “pelahap buku”.
Mereka berdua memiliki rekam jejak jenaka. Suatu hari di Jalan Juanda, karena kantong tipis, mereka nekat “mengamankan” sebuah buku filsafat Zarathustra karya Nietzsche dari toko. Mereka berhasil mengantongi buku yang kebetulan terselip di rak agama tersebut. Celakanya, sesampainya di luar, Chairil baru sadar ia salah ambil. Alih-alih Nietzsche, ia malah mencuri Alkitab.
Di luar kenakalan masa mudanya, duet ini bersama Rivai Apin sukses menggebrak dunia sastra. Mereka merumuskan “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 1950. Asrul menyuarakan identitas Indonesia yang tidak sekadar berpatokan pada fisik sawo matang, melainkan pada kebebasan hati dan pikiran.
Panggung Sinema dan Syiar Lesbumi NU
Asrul Sani bukan sekadar seniman menara gading; ia seorang nahdliyyin tulen yang percaya bahwa seni memikul tanggung jawab sosial. Ia melabuhkan pandangan estetikanya dengan ikut mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU), bersama Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik. Di Lesbumi, Asrul bahkan memimpin redaksi majalah yang ia beri nama Gelanggang.
Kiprahnya di NU kian bersinar saat ia merambah dunia film. Kurator pameran, Dhianita Kusuma Pertiwi, menyoroti kekhasan naskah Asrul yang memadukan konflik psikologis dengan corak pedagogis.
“Dari Apa Jang Kau Tjari, Palupi? yang memperoleh pengakuan internasional, sampai Naga Bonar yang kelakarnya masih terdengar sampai hari ini, Asrul telah membuktikan diri sebagai seorang sineas yang menjadikan film sebagai alat ekspresi dan medium pemikiran, bukan sekadar sarana ketakjuban,” terang Dhianita.
Nuansa religius dan dakwah juga kental mewarnai karya penyabet 8 Piala Citra ini. Asrul bahkan tercatat sebagai sutradara film Indonesia pertama yang bernapas dakwah lewat film Tauhid (1964). Produksi film ini terbilang epik karena Asrul berkolaborasi langsung dengan Menteri Agama saat itu, KH Saifuddin Zuhri, dan melakukan pengambilan gambar langsung di Tanah Suci sembari beribadah haji.
Asrul Sani wafat pada 11 Januari 2004 silam, meninggalkan warisan yang melintasi zaman. Politisi Partai NU yang pernah duduk di DPR ini membuktikan pesan ibundanya untuk “tidak menundukkan kepala karena jabatan atau uang”.
Sang istri, Mutiara Sani Sarumpaet, merangkum perjalanan panjang suaminya dengan satu kalimat yang membekas kuat. “Ia tidak hanya berbicara tentang zamannya, tetapi juga melampaui zaman—menjadi relevan hingga hari ini, bahkan untuk masa depan.”
Pameran seabad di Perpusnas menjadi saksi bisu bahwa Asrul Sani belum, dan tak akan pernah, benar-benar pergi.***

