Seabad Asrul Sani: Mahakarya Sineas dan Bapak Lesbumi NU

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) meluncurkan buku Seabad Setahun Asrul Sani dan Seminar Nasional pada 9–10 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia– ISTIMEWA

Ketajaman intelektual Asrul Sani membawanya bertemu dengan penyair eksentrik, Chairil Anwar. Pertemuan pertama mereka di Pasar Senen pada era pendudukan Jepang membuahkan persahabatan erat. Asrul mengenang Chairil muda tampak lusuh, namun memiliki sorot mata “pelahap buku”.

Mereka berdua memiliki rekam jejak jenaka. Suatu hari di Jalan Juanda, karena kantong tipis, mereka nekat “mengamankan” sebuah buku filsafat Zarathustra karya Nietzsche dari toko. Mereka berhasil mengantongi buku yang kebetulan terselip di rak agama tersebut. Celakanya, sesampainya di luar, Chairil baru sadar ia salah ambil. Alih-alih Nietzsche, ia malah mencuri Alkitab.

Di luar kenakalan masa mudanya, duet ini bersama Rivai Apin sukses menggebrak dunia sastra. Mereka merumuskan “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 1950. Asrul menyuarakan identitas Indonesia yang tidak sekadar berpatokan pada fisik sawo matang, melainkan pada kebebasan hati dan pikiran.

Bacaan Lainnya
Panggung Sinema dan Syiar Lesbumi NU

Asrul Sani bukan sekadar seniman menara gading; ia seorang nahdliyyin tulen yang percaya bahwa seni memikul tanggung jawab sosial. Ia melabuhkan pandangan estetikanya dengan ikut mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU), bersama Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik. Di Lesbumi, Asrul bahkan memimpin redaksi majalah yang ia beri nama Gelanggang.

Kiprahnya di NU kian bersinar saat ia merambah dunia film. Kurator pameran, Dhianita Kusuma Pertiwi, menyoroti kekhasan naskah Asrul yang memadukan konflik psikologis dengan corak pedagogis.

“Dari Apa Jang Kau Tjari, Palupi? yang memperoleh pengakuan internasional, sampai Naga Bonar yang kelakarnya masih terdengar sampai hari ini, Asrul telah membuktikan diri sebagai seorang sineas yang menjadikan film sebagai alat ekspresi dan medium pemikiran, bukan sekadar sarana ketakjuban,” terang Dhianita.

Nuansa religius dan dakwah juga kental mewarnai karya penyabet 8 Piala Citra ini. Asrul bahkan tercatat sebagai sutradara film Indonesia pertama yang bernapas dakwah lewat film Tauhid (1964). Produksi film ini terbilang epik karena Asrul berkolaborasi langsung dengan Menteri Agama saat itu, KH Saifuddin Zuhri, dan melakukan pengambilan gambar langsung di Tanah Suci sembari beribadah haji.

Pos terkait