Ketua Umum PBNU mengaku dulu terlalu fanatik membesarkan organisasi hingga dikoreksi Gus Dur. Ia juga memilih tak membela sang adik demi menjaga muruah NU.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya membuat sejumlah pengakuan terkait dinamika organisasi yang ia pimpin. Ia berbincang dalam siniar politik bersama Akbar Faizal yang diunggah Jumat (17/4/2026).
Gus Yahya buka suara mengenai guncangan internal PBNU, pemahaman masa lalunya yang keliru tentang kebangsaan, hingga keputusannya mengambil jarak dari kasus hukum yang menimpa keluarganya.
Mengaku Sempat Salah Paham soal Prioritas
Gus Yahya mengawali cerita dengan pengakuan masa lalu. Ia menyadari pernah memiliki pola pikir keliru mengenai posisi NU di Indonesia sebelum mendapat pencerahan dari para kiai sepuh dan Gus Dur.
“Dulu mungkin karena saya terlalu fanatik dengan NU, saya pikir NU-nya diurus dulu. Kalau NU diurus, selesai Indonesia. Tapi saya kemudian dikoreksi oleh Gus Dur. Gak begitu. Justru sebetulnya Indonesia dulu,” ungkap Gus Yahya.
Ia memaparkan jika negara terurus dengan baik, maka NU dan umat Islam secara otomatis akan merasakan dampaknya. Pemikiran ini kini menjadi landasan PBNU menolak menuntut perlakuan istimewa dari pemerintah.
Blak-blakan soal Badai Internal
Gus Yahya secara terbuka mengakui adanya pertarungan sengit di internal PBNU saat ini. Guncangan ini merupakan konsekuensi logis dari agenda transformasi dan demarkasi politik yang ia terapkan sejak awal menjabat.
Ia mengubah tradisi lama dengan melarang fungsionaris PBNU merangkap jabatan sebagai pengurus partai politik. Langkah ini memicu resistensi dari kelompok yang selama ini menikmati privilese dari kedekatan NU dengan kekuasaan.
“Karena saya menawarkan transformasi dan benar-benar menjalankan agenda-agenda untuk itu, transformasi itu pasti harus melewati pertarungan. Gak bisa tidak,” akunya.
Ia menegaskan NU tidak boleh lagi terus dikonsolidasikan demi melayani tujuan politik kekuasaan. Jika praktik lama berlanjut, ia khawatir NU justru akan kerdil dan membahayakan harmoni sosial di Indonesia.
Menolak Seret NU dalam Kasus Sang Adik
Pengakuan paling tegas muncul ketika host Akbar Faizal menyinggung masalah yang menimpa mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut. Gus Yahya mengaku secara sadar memilih jalan sunyi dengan tidak membela sang adik menggunakan institusi PBNU.





