Guangdong Lidun mengklaim teknologinya dapat mengisi penuh baterai sepeda motor listrik dalam sekitar 30 menit. Waktu tersebut diklaim lebih singkat dibandingkan pengisian konvensional yang membutuhkan lima hingga enam jam.
Setelah baterai terisi penuh, kendaraan disebut mampu menempuh jarak hingga 150 kilometer. Namun, perusahaan belum menjelaskan kapasitas dan jenis baterai yang diuji, daya keluaran pengisi daya, serta kondisi yang digunakan untuk menghitung jarak tempuh.
Kompatibilitas Belum Dijelaskan
Standar perangkat menjadi salah satu persoalan penting dalam rencana ekspansi tersebut. Motor listrik yang beredar di Indonesia menggunakan baterai, tegangan, konektor, dan sistem pengisian yang berbeda-beda.
Guangdong Lidun belum menyebut merek kendaraan yang kompatibel dengan teknologinya. Belum diketahui pula apakah jaringan tersebut akan menggunakan standar yang sama dengan ekosistem Molinas atau beroperasi sebagai jaringan tersendiri.
Pemerintah meluncurkan Molinas pada 13 Agustus 2026 untuk memperkuat industri kendaraan listrik roda dua dalam negeri. Rosan memperkirakan potensi pasarnya mencapai USD170 miliar atau sekitar Rp3.036 triliun berdasarkan kurs saat pernyataan disampaikan.
Perhitungan tersebut merujuk pada populasi sekitar 140 juta sepeda motor dan pembelian 6 juta–7 juta unit kendaraan baru setiap tahun.
Sedikitnya 10 perusahaan nasional disebut telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk terlibat dalam pengembangan Molinas. Pemerintah juga menyiapkan ekosistem yang mencakup kendaraan, baterai, pembiayaan, pengisian daya, distribusi, dan layanan purnajual.
Guangdong Lidun belum menjelaskan apakah perangkat pengisi daya akan diproduksi di Indonesia atau didatangkan dari China. Tingkat kandungan lokal, skema alih teknologi, dan kemungkinan insentif pemerintah juga belum diumumkan.
“Kalau kami lihat ini potensi ke depannya, peluang pertumbuhannya bisa secara eksponensial,” kata Rosan.***





