Perusahaan teknologi energi asal China itu mulai membangun jaringan pengisian pada Oktober 2026. Nilai investasi, lokasi, mitra lokal, dan standar perangkatnya belum diumumkan.
Guangdong Lidun New Energy Technology berencana membangun sekitar 500 stasiun pengisian daya kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia mulai Oktober 2026.
Perusahaan asal Guangdong, China, itu membidik pasar kendaraan roda dua Indonesia yang populasinya mencapai sekitar 140 juta unit. Namun, jumlah tersebut mencakup seluruh sepeda motor yang beroperasi, bukan jumlah motor listrik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani sebelumnya menyebut penjualan sepeda motor nasional mencapai 6 juta–7 juta unit per tahun. Penjualan motor listrik baru berkisar 60 ribu–70 ribu unit.
“Jadi, porsi motor listrik hanya 1 persennya,” kata Rosan saat peluncuran Motor Listrik Nasional atau Molinas di Cikarang, Jawa Barat, Kamis, 13 Agustus 2026.
Rencana 500 stasiun tersebut merupakan ekspansi Guangdong Lidun, bukan program pemerintah China. Perusahaan menyediakan teknologi pengisian untuk kendaraan listrik roda dua maupun roda empat.
Dimulai dari Jakarta Barat
Guangdong Lidun disebut telah memasang satu fasilitas pengisian terintegrasi di Jakarta Barat. Perusahaan juga mengklaim telah menjalin kerja sama dengan sejumlah produsen kendaraan roda dua lokal, tetapi belum mengungkap identitas mitranya.
Fasilitas itu menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya, penyimpanan energi, dan pengisian kendaraan listrik dalam satu sistem. Model serupa direncanakan diterapkan pada sekitar 500 lokasi mulai Oktober.
Belum ada penjelasan apakah seluruh stasiun akan selesai dibangun dalam satu tahun atau dikembangkan secara bertahap. Perusahaan juga belum mengumumkan sebaran lokasi, nilai investasi, kebutuhan lahan, kapasitas listrik, dan pihak yang akan mengoperasikan fasilitas tersebut.
Ketiadaan data itu membuat dampak investasinya belum dapat dihitung, termasuk jumlah kendaraan yang bisa dilayani dan kapasitas jaringan pada setiap lokasi.
Guangdong Lidun mengklaim teknologinya dapat mengisi penuh baterai sepeda motor listrik dalam sekitar 30 menit. Waktu tersebut diklaim lebih singkat dibandingkan pengisian konvensional yang membutuhkan lima hingga enam jam.
Setelah baterai terisi penuh, kendaraan disebut mampu menempuh jarak hingga 150 kilometer. Namun, perusahaan belum menjelaskan kapasitas dan jenis baterai yang diuji, daya keluaran pengisi daya, serta kondisi yang digunakan untuk menghitung jarak tempuh.
Kompatibilitas Belum Dijelaskan
Standar perangkat menjadi salah satu persoalan penting dalam rencana ekspansi tersebut. Motor listrik yang beredar di Indonesia menggunakan baterai, tegangan, konektor, dan sistem pengisian yang berbeda-beda.
Guangdong Lidun belum menyebut merek kendaraan yang kompatibel dengan teknologinya. Belum diketahui pula apakah jaringan tersebut akan menggunakan standar yang sama dengan ekosistem Molinas atau beroperasi sebagai jaringan tersendiri.
Pemerintah meluncurkan Molinas pada 13 Agustus 2026 untuk memperkuat industri kendaraan listrik roda dua dalam negeri. Rosan memperkirakan potensi pasarnya mencapai USD170 miliar atau sekitar Rp3.036 triliun berdasarkan kurs saat pernyataan disampaikan.
Perhitungan tersebut merujuk pada populasi sekitar 140 juta sepeda motor dan pembelian 6 juta–7 juta unit kendaraan baru setiap tahun.
Sedikitnya 10 perusahaan nasional disebut telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk terlibat dalam pengembangan Molinas. Pemerintah juga menyiapkan ekosistem yang mencakup kendaraan, baterai, pembiayaan, pengisian daya, distribusi, dan layanan purnajual.
Guangdong Lidun belum menjelaskan apakah perangkat pengisi daya akan diproduksi di Indonesia atau didatangkan dari China. Tingkat kandungan lokal, skema alih teknologi, dan kemungkinan insentif pemerintah juga belum diumumkan.
“Kalau kami lihat ini potensi ke depannya, peluang pertumbuhannya bisa secara eksponensial,” kata Rosan.***





