Sementara itu, ABC Australia menurunkan tajuk Fury over budget cuts, lack of opportunity sparks debate over ‘escaping’ Indonesia. Dalam laporan tersebut, demografer Ariane Utomo menyebut pasar kerja Indonesia semakin tidak menentu. Anak-anak muda kehilangan akses pada pekerjaan yang memberi makna dan mobilitas sosial.
Data resmi pun membenarkan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025 ada 1,01 juta lulusan universitas dan pascasarjana yang masih menganggur. Lulusan diploma, SMA, dan SMK pun menyumbang jutaan angka tambahan. Bahkan dari 145 juta angkatan kerja yang sudah bekerja, 3,3 juta sarjana masih terjebak di sektor informal—tanpa upah tetap, tanpa jaminan kesehatan, tanpa kepastian.
Janji-janji besar soal investasi dan hilirisasi kini dipertanyakan. Apalah arti pembangunan jika tak ada pekerjaan untuk rakyatnya? Dunia menyorot, rakyat bersuara. Indonesia sedang diuji: akankah bonus demografi menjadi anugerah, atau justru kutukan?***





