Bos Microsoft AI Prediksi Pekerjaan Kantoran Diambil Alih AI dalam 18 Bulan

Kecerdasan buatan (AI) akan mengotomatisasi sebagian besar pekerjaan kantoran (white collar) dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. - Ilustrasi AI Generate
CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman, memprediksi kecerdasan buatan (AI) akan mengotomatisasi sebagian besar pekerjaan kantoran (white collar) hanya dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

​Otomatisasi pekerjaan akibat makin kencangnya gelombang penggunaan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat. Peringatan serius ini datang dari para petinggi perusahaan teknologi global, yang menilai masifnya adopsi AI akan segera mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia, terutama di sektor perkantoran.

Ancaman otomatisasi ini memicu kekhawatiran meluas akan nasib para pekerja profesional di tengah masifnya perkembangan teknologi.

​CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, secara spesifik memprediksi bahwa sebagian besar pekerjaan kantoran (white collar) akan terotomatisasi dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. Suleyman menyebut model AI saat ini sudah berada di ambang kemampuan yang setara dengan manusia untuk menangani hampir seluruh tugas profesional.

Bacaan Lainnya

​”Pekerjaan white collar seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga marketing, sebagian besar tugasnya akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12-18 bulan,” ujar Suleyman, dikutip dari Futurism, Kamis (19/2/2026).

​Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kecemasan para investor dan pekerja terhadap dampak destruktif AI pada stabilitas dunia kerja. Kekhawatiran tersebut bahkan sempat memicu aksi jual di pasar saham teknologi pasca-peluncuran agen AI terbaru dari Anthropic, yang dinilai terbukti mampu mengerjakan tugas-tugas profesional yang kompleks.

​Bukan Sekadar Ancaman Kosong

​Tak hanya Suleyman, sejumlah tokoh penting di industri teknologi juga menyuarakan peringatan serupa. CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menyebut AI berpotensi menghapus hingga 50 persen pekerjaan entry-level di sektor white collar. Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, dengan tegas menyatakan bahwa AI bisa menghancurkan kategori pekerjaan tertentu secara permanen.

​Menurut Suleyman, bukti nyata otomatisasi ini sudah sangat terlihat di sektor rekayasa perangkat lunak (software engineering). Banyak programmer masa kini yang sangat bergantung pada AI-assisted coding untuk menghasilkan sebagian besar kode mereka. Microsoft sendiri mengklaim bahwa lebih dari seperempat kode perusahaan kini ditulis dengan bantuan AI. Akibatnya, peran engineer pun mulai bergeser menjadi lebih strategis—hanya berfokus pada debugging, arsitektur sistem, dan implementasi produksi.

​Kualitas Masih Dipertanyakan dan Ancam “AI Washing”

​Kendati perkembangannya pesat, sejumlah studi menunjukkan bahwa kualitas output AI masih belum sepenuhnya andal. Dalam banyak kasus di lapangan, manusia tetap harus melakukan verifikasi berulang untuk memastikan tingkat akurasi dan keamanannya.

Pos terkait