Nama Menag Nasaruddin Umar panaskan bursa Ketum PBNU. Namun, langkahnya butuh restu Presiden dan rela lepas kursi menteri.
Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 semakin memanas. Berbagai nama besar mulai bermunculan ke permukaan, mulai dari tokoh struktural, pimpinan pesantren, hingga figur menteri. Salah satu sosok yang kini memikat perhatian publik adalah Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
Banyak pihak menilai Nasaruddin memiliki modal kuat untuk memimpin PBNU. Ia mengantongi legitimasi keilmuan, rekam jejak birokrasi nasional, hingga jaringan pesantren yang mengakar.
Pengalamannya sebagai Katib Aam PBNU periode 2010–2015 juga menegaskan bahwa ia bukan sosok asing dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
Syarat Berat Menuju Kursi Puncak
Ketua PBNU Mohamad Syafi’ Alielha, atau yang akrab disapa Savic Ali, membenarkan adanya desas-desus mengenai ketertarikan Nasaruddin Umar untuk memimpin organisasi Islam terbesar tersebut. Meski demikian, Savic mengingatkan adanya konsekuensi besar yang menanti sang menteri jika ia serius maju ke gelanggang.
”Saya dengar bahwa Menteri Agama mau, infonya berkepentingan, berminat jadi ketua umum PBNU. Tapi kalau mau jadi ketua umum PBNU kan mundur jadi menteri,” ujar Savic Alidalam acara podcast Gaspol Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Selain harus melepas jabatan di kabinet, Savic juga menilai langkah Nasaruddin wajib mengantongi persetujuan dari Presiden. “Saya kira seorang menteri juga mungkin ya dia berkepentingan untuk mendapatkan restu Presiden,” tambahnya.
Dinamika Bursa Calon Menurut Gus Ipul
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) turut merespons masuknya nama Nasaruddin Umar dalam bursa pencalonan. Gus Ipul memandang kemunculan nama-nama tokoh besar menjelang muktamar sebagai dinamika yang wajar.
”Ya kalau nama-nama biasalah disebut, sudah beredarlah,” kata Gus Ipul.
Namun, ia menegaskan bahwa segala wacana dan popularitas nama di luar arena tidak bisa langsung menentukan hasil akhir. Keputusan tertinggi tetap berada pada musyawarah. “Tetap pada akhirnya kan muktamirin (peserta muktamar) dan nanti ditentukan oleh musyawarah atau pemilihan,” tegasnya.
Magnet Kekuatan Suara Sulawesi Selatan
Langkah Nasaruddin Umar tampaknya mendapat angin segar dari kawasan timur Indonesia. Makmur Idrus, Pengurus PWNU Sulawesi Selatan sekaligus mantan Ketua PC GP Ansor Makassar, melihat peluang Nasaruddin sangat terbuka lebar asalkan mendapat dukungan solid dari basis daerah asalnya.





