Shamsi Ali Ungkap Paradoks 9/11: Islam di Amerika Justru Tumbuh Pesat Usai Tragedi

Shamsi Ali menjelaskan pertumbuhan Islam dan jumlah Muslim di Amerika Serikat dalam UMY Awards 2026 di Yogyakarta
Shamsi Ali menjelaskan pertumbuhan Islam dan jumlah Muslim di Amerika Serikat dalam UMY Awards 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). --Foto Dok UMY
Tragedi 9/11 ternyata menjadi momen paradoksal bagi Islam di Amerika Serikat. Di tengah gelombang Islamofobia, jumlah mualaf justru melonjak hingga 400 persen dan populasi Muslim disebut telah menembus 15 juta jiwa.

Tokoh Islam Amerika Serikat asal Indonesia, Shamsi Ali, mengungkap bahwa tragedi 11 September 2001 (9/11) menjadi momentum paradoksal bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat (AS). Di tengah gelombang Islamofobia dan tekanan berat terhadap komunitas Muslim, Islam justru berkembang paling pesat dalam sejarah AS.

“9/11 adalah momentum paradoksal. Di satu sisi, komunitas Muslim menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Di sisi lain, justru itulah titik ketika Islam tumbuh paling pesat dalam sejarah Amerika,” ujar Shamsi Ali saat menerima penghargaan dalam Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).

Sebagai Imam Besar New York yang telah puluhan tahun berdakwah di Amerika, Shamsi Ali menyaksikan langsung perubahan besar pasca-serangan 9/11. Menurutnya, tragedi tersebut mengubah cara pandang masyarakat Amerika terhadap Islam secara drastis.

Islamofobia Meningkat Setelah 9/11

Pasca tragedi 9/11, pemerintah AS memperketat berbagai kebijakan terhadap komunitas Muslim. Salah satunya melalui penerapan PATRIOT Act yang memperluas pengawasan keamanan nasional.

Selain itu, terjadi profiling ketat terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, termasuk pengawasan intensif terhadap masjid-masjid oleh Kepolisian New York (NYPD) selama lebih dari satu dekade.

Shamsi Ali juga menyoroti data Federal Bureau of Investigation (FBI) yang mencatat lonjakan kejahatan berbasis kebencian atau hate crime terhadap Muslim hingga 1.600 persen pada periode pasca-9/11.

Namun di balik tekanan tersebut, ketertarikan masyarakat Amerika terhadap Islam justru meningkat tajam.

Mualaf di Amerika Naik Drastis

Menurut Shamsi Ali, rasa penasaran publik terhadap Islam membuat Al-Qur’an menjadi salah satu buku paling banyak dicari di Amerika Serikat setelah tragedi 9/11.

Fenomena itu berdampak pada meningkatnya angka mualaf secara signifikan. “Setiap kali tekanan datang, Islam justru semakin dikenal. Kebencian itu tanpa sadar telah menjadi jalan dakwah yang paling efektif,” kata Shamsi Ali.

Ia menyebut angka konversi ke Islam meningkat lebih dari 400 persen pada periode tersebut. Banyak warga Amerika yang awalnya ingin memahami Islam justru akhirnya memutuskan bersyahadat.

Jumlah Muslim di Amerika Diperkirakan Capai 15 Juta

Dalam kesempatan yang sama, Shamsi Ali juga mengungkapkan bahwa jumlah Muslim di Amerika Serikat saat ini diperkirakan telah mencapai 10 hingga 15 juta jiwa. Angka tersebut jauh melampaui data resmi pemerintah AS yang selama ini hanya mencatat sekitar 5 hingga 7 juta Muslim.

“Data resmi yang ada saat ini masih undercounting. Jumlah sesungguhnya telah melampaui dua kali lipat angka yang dipublikasikan,” ujarnya.

Menurut Shamsi Ali, ketimpangan data itu menunjukkan masih adanya pengaburan terhadap eksistensi dan kontribusi komunitas Muslim di Amerika.

Profil Muslim Amerika: Muda dan Berpendidikan Tinggi

Shamsi Ali juga memaparkan data dari Pew Research Center yang menunjukkan profil Muslim Amerika didominasi kelompok muda dan berpendidikan tinggi.

Sebanyak 58 persen Muslim di AS berusia di bawah 40 tahun. Sementara sekitar 44 persen Muslim Amerika memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi, melampaui rata-rata nasional warga AS yang berada di angka 33 persen.

Komunitas Muslim di Amerika juga banyak berkiprah di sektor strategis seperti kedokteran, teknologi informasi (TI), teknik, hingga hukum.

Pertumbuhan itu terlihat dari meningkatnya jumlah masjid di AS. Jika pada awal 1960-an hanya terdapat sekitar 200 masjid, kini jumlahnya telah melampaui 4.500 masjid, termasuk lebih dari 300 masjid di Kota New York.

Gelombang Mualaf Kulit Putih

Shamsi Ali mengungkapkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen Muslim di Amerika saat ini merupakan mualaf.

Jika sebelumnya mayoritas mualaf berasal dari kalangan Afrika-Amerika dan Latin, kini tren baru mulai muncul dari kelompok warga kulit putih Amerika.

“Dalam tren terbaru, gelombang konversi juga mulai datang dari kelompok yang sebelumnya jarang dikaitkan dengan Islam, yaitu warga kulit putih Amerika,” ungkapnya.

Menurut Shamsi Ali, Islam kini dipandang sebagai agama yang rasional dan mampu menjawab kekosongan spiritual masyarakat modern di Amerika.

Proyeksi Muslim Amerika Tahun 2050

Dengan tingkat fertilitas Muslim Amerika yang mencapai 2,7 persen, Shamsi Ali optimistis pengaruh komunitas Muslim di AS akan terus meningkat pada masa depan.

Ia memproyeksikan pada tahun 2050 jumlah Muslim di AS bisa mencapai 3 hingga 5 persen dari total populasi. Namun secara pengaruh sosial, ekonomi, dan politik, komunitas Muslim diperkirakan mampu mencapai dominasi hingga 15 sampai 20 persen.

“Setiap kali ada konflik yang melibatkan dunia Islam, Muslim di Amerika selalu dipojokkan untuk memilih antara iman, kemanusiaan, dan loyalitas kepada negara. Ini tidak adil dan perlu diatasi dengan cara yang cerdas,” pungkas Shamsi Ali.***