Apakah asap karhutla berbahaya bagi paru-paru? Jawabannya, iya. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengandung partikel halus PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru dan mengganggu sistem pernapasan.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla segera menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk. Warga juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan.
Imbauan tersebut disampaikan untuk mengurangi paparan PM2,5 dari asap karhutla yang dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan riwayat asma dan penyakit paru.
“Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” kata Budi dalam keterangannya, seperti dikutip Minggu (30/8/2026).
Mengapa Asap Karhutla Berbahaya bagi Paru-paru?
PM2,5 merupakan partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dihasilkan antara lain dari proses pembakaran hutan dan lahan.
Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat terhirup hingga bagian terdalam paru-paru. Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari iritasi mata, tenggorokan gatal, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penyakit paru kronis.
Karena itu, paparan asap karhutla tidak sebaiknya dianggap sepele, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan.
Menkes Imbau Warga Pakai Masker
Budi menegaskan penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat ketika wilayah tempat tinggal mulai dipenuhi asap karhutla.
Selain menggunakan masker, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Pemerintah juga mendorong masyarakat rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi resmi. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum warga memutuskan melakukan aktivitas di luar rumah.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Paparan PM2,5 perlu mendapat perhatian lebih dari kelompok rentan. Mereka antara lain anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru.
Kelompok tersebut dianjurkan lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Jangan Abaikan Gejala akibat Asap Karhutla
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat tidak menyepelekan gejala gangguan pernapasan setelah terpapar asap karhutla.
Warga yang mengalami sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat diimbau segera mencari pertolongan medis ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Penanganan lebih awal diperlukan agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih berat.
Jadi, apakah asap karhutla berbahaya bagi paru-paru? Asap karhutla dapat membahayakan sistem pernapasan karena mengandung PM2,5 yang berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta memantau kualitas udara menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan.***





